Rabu, 04 Januari 2012

Laporan Praktikum Mikrobiologi : Karakterisasi Sifat Fisiologis dan Biokimia Bakteri

Pendahuluan
Bakteri adalah organisme mikro dan tidak dapat dilihat dengan matatelanjang. Keberadaan bakteri umumnya bersifat merugikan organisme lainnya yangdikenal dengan istilah patogen, seperti: Escherichia coli, Vibrio sp, Shalmonella spdan sebagainya. Bakteri ini banyak ditemukan hampir diseluruh media/tempatseperti: tanah, udara, air, di tubuh makhluk hidup dan sebagainya (Gross 1995).
Makluk hidup dalam garis besarnya dibagi 2 (dua) golongan besar yaitu: flora (dunia tumbuhan dan fauna (dunia hewan). Makhluk hidup yang sangat kecil yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang disebut mikroorganisme Masing-masing mikroorganisme itu dibagi dalam: phylum, kelas, ordo, family, genus, dan spesies. Sehingga semua itu diperlukan suatu cara pengelompokan atau pengklasifikasian (Hastutik 2002).
Dalam mikroorganisme untuk menetapkan suatu sistem klasifikasi yang mencerminkan dengan semua persamaan dan perbedaannya dinamakan taksonomi. Kegiatan di dalam penyusunan taksonomi mikroorganisme adalah pengklasifikasian, penamaan dan pengidentifikasi yang kesemuanya disebut dengan sistematika mikroba (Hastutik 2002).
Sistem klasifikasi mikroba (bakteri, jamur, virus) didasarkan pada hierarki taksonomi atau penamaan kelompok atau kategori yang menempatkan spesies pada satu ujung dunia dan di ujung dunia lainnya, dalam urutan: spesies - genus - famili ordo - kelas - filum atau divisi - dunia. Mikroorganisme, sebagaimana bentuk-bentuk kehidupan yang lain, diberi nama menurut nomenklatur sistem biner (Hastutik 2002).
Klasifikasi bakteri menurut Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology pada umumnya diterima secara internasional. Manual ini direvisi secara berkala untuk memanfaatkan pengetahuan baru melalui penelitian dengan mikroorganisme dan melalui teknik-teknik baru untuk menganilisis data yang diperoleh. Bergey’s Manual edisi kedelapan yang sekarang ini, membagi semua bakteri menjadi 19 bagian (kelompok), dan masing-masing dicirikan oleh sifat-sifat morfologi atau metabolik yang nyata. Tekanan diberikan pada pengelompokan bakteri yang memiliki ciri-ciri umum dan mudah dikenali. Tidak ada usaha untuk mengatur penempatan mikroorganisme yang mencerminkan skema suatu perkembangan evolusi, sebagaimana dilakukan pada edisi-edisi sebelumnya. Alasannya ialah karena dalam banyak hal pengetahuan kita mengenai mikroorganisme belum lengkap (Karser 2004).
Karakterisasi morfologi bertujuan untuk mengamati baik morfologi koloni maupun morfologi sel bakteri pada isolat bakteri yang telah lolos seleksi. Ketika ditumbuhkan dalam media yang bervariasi, mikroorganisme akan menunjukkan penampakan makroskopis yang berbeda-beda pada pertumbuhannya. Perbedaan ini disebut dengan karakterisktik kultur, yang digunakan sebagai dasar untuk memisahkan mikroorganisme dalam kelompok taksonomik (Capuccino,1992).
Pengujian secara fisiologis juga dapat dilakukan untuk mengelompokkan taksonomi mikroorganisme termasuk taksonomi bakteri. Pengujian fisiologis terdiri dari uji motilitas, uji katalase, uji oksidase, uji gelatin, dan uji fermentatif/oksidatif.  Selain kelima uji tersebut, dapat juga dilakukan uji yang lain, yaitu dengan menggunakan uji hidrolisis pati, uji indol, uji methyl red, uji sitrat, dan uji hidrolisis urea (Hadioetomo,1993).

Tujuan
Praktikum bertujuan mengidentifikasi karakterisasi sifat biokimia dan fisiologi suatu bakteri berdasarkan uji motilitas, uji oksidase, uji katalase, uji OF, dan uji gelatin, serta memperkirakan genus dari bakteri yang diujikan.

Alat dan Bahan
Alat-alat yag digunakan ialah kawat ose berujung bulat, kawat ose berujung runcing, tabung reaksi bertutup, cawan petri, cover glass, kertas saring, kaca preparat, spirtus, botol semprot, dan rak tabung.
Bahan-bahan yang digunakan ialah sample bakteri agar miring, media SIM (Sulfida Indo Motility), p-aminodimethylaniline-oxalat 1 %, alcohol 70 %, hydrogen peroxide, gelatin, OF, dan paraffin.

Prosedur
Uji Motilitas
Koloni bakteri diambil dengan menggunakan kawat ose berujung runcing. Kemudian diinokulasikan secara vertical dan dilakukan inkubasi selama 2x24 jam. Setelah diinkubasi, perubahan bakteri diamati. Bakteri motil ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan pada permukaan medium dan tidak hanya pada bekas tusukan, sedangkan bakteri non motil akan tumbuh sepanjang tusukan.
Uji Oksidase
Kertas saring yang bersih disiapkan. Lalu p-aminodimethylaniline-oxalat 1 % diteteskan pada kertas saring. Kemudian satu ose penuh biakan dari media padat diulaskan diatas tetesan p-aminodimethylaniline-oxalat 1 %. Apabila koloni berubah menjadi warna merah, maka bersifat positif, sedangkan apabila berwarna ungu maka bersifat negative.
Uji Katalase
Koloni bakteri dari agar miring diambil dan diletakkan pada gelas objek. Larutan hydrogen peroksida dibarikan pada koloni tersebut. Kemudian diamati, apabila terbentuk gelembung-gelmbung udara maka menunjukkan reaksi positif.
Uji Gelatin
Gelatin cair disiapkan pada tabung reaksi sebanyak 4 ml. Inokulasikan biakan pada nutrient gelatin tersebut. Inkubasikan pada suhu 370C selama 2 hari, lalu masukkan ke dalam kulkas (ice bath). Kontrol dan gelatin yang tidak mengalami hidrolisa akan membeku, sedangkan yang terhidrolisa akan tetap cair atau menunjukkan reaksi yang positif.
Uji Oksidatif Fermentatif
Koloni bakteri diambil dengan jarum ose. Inokulasikan secara vertical pada 1 set O/F medium. Salah satu tabung diberi paraffin cair 1 ml, diinkubasi selama 2x24 jam, sedangkan tabung reaksi yang satu lagi tidak diberi paraffin dan tetap diinkubasi selama 2x24 jam. Hasil pengujian, reaksi oksidatif bila tabung yang tidak diberi paraffin berubah menjadi kuning, sedangkan reaksi fermentative bila tabung yang diberi paraffin berubah warna menjadi kuning, atau kedua tabung berubah warna menjadi kuning.

Data dan Hasil Pengamatan
Tabel 1. Tahap Awal Pengelompokkan Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif
Uji
Hasil
Gambar
Keterangan
Motilitas
+
Bakteri tumbuh pada permukaan medium dan pada bekas tusukan (bakteri motil).

Oksidase
+
Koloni berubah menjadi merah
Katalase
+
Terbentuk gelembung-gelembung udara
Gelatin
+
Kontrol dan gelatin akan tetap cair
O/F
Tanpa paraffin : +
Paraffin : +
Tabung yang tidak diberi paraffin maupun yang diberi paraffin berubah warna menjadi kuning (bakteri aerobic dan anaerobic)






Tabel 2. Hasil Identifikasi Bakteri (Tingkat Genus)
Gram Positif
Gram Negatif
Listeria
Chromobacterium lixidium
Bacillus
Pseudomonas

Chromobacterium

Violaceum

Beneckea

Vibrio

Pleisiomonas

Aeromonas


Pembahasan
Media SIM (Sulfida Indo Motility) merupakan salah satu media yang digunakan untuk pengujian fisio-metabolisme suatu bakteri yaitu untuk mengetahui kemampuan membentuk indol (produk hasil degradasi protein), ikatan sulfide dan motilitas atau pergerakan bakteri.
Data dan hasil pegamatan menunjukkan bahwa reaksi berlangsung positif artinya bakteri yang diujikan termasuk ke dalam bakteri motil. Bakteri motil ialah bakteri yang bergerak dengan menggunakan flagel atau silia. Hal tersebut disebabkan karena setelah diinokulasikan ke dalam media SIM dan diinkubasi selama 2x24 jam, bakteri yang berkoloni tumbuh pada permukaan media serta tumbuh pada bekas tusukan jarum inokulasi yang berujung runcing.
Motalitas merupakan salah satu ciri penting pengkarakterisasian bakteri. Sifat ini diakibatkan oleh adanya alat moler cambut yang disebut flagella sehingga sel bakteri dapat berenang didalam lingkungan air. Motilitas sebagaian besar jenis bakteri motil pada suhu relative rendah 15-25◦c dan mungkin tidak motil pada suhu 37◦c. Namun, suatu resiko tersendiri bagi organisme berukuran kecil untuk menerima kenyataan bahwa dengan ukuran tersebut sel bakteri dapat dipengaruhi oleh aktifitas molekul air ataupelarut disekitarnya yang dinamakan Brownian movement. Gerakan brown adalah gerak partikel koloid yang bergerak dengan arah tak beraturan, gerak acak molekul ini dapat membuat sel bakteri bergoyang-goyang cepat atau lebih tepatnya bergetar tak beraturan sehingga bagi mata yang awas akan terlihat motil. Sel yang berpengaruh gerak brown diamati pada perbesaran 1000x dengan mikroskop cahaya, tentunya dengan preparat sederhana dan media kaldu atau koloni yang dicampur air (Karser 2004).
Sel yang bergerak dengan dorongan flagella akan bergerak lebuh aktif. Jika suatu sel tersebut motil, akan menciptakan jalur gerak yang tak beraturan. Namun untuk gerak brown sel tampk pasif dan seperti bergerak sendiri, mirip pada saat menggetarkan batang pensil dengan memutarkan pergelangan tangan (Volk 1988).
Flagella merupakan struktur komplek yang tersusun atas bermacam-macam protein termasuk flagelin yang membuat flagella berbentuk seperti tabung cambut dan protein kompleks yang memanjang dinding sel dan membran sel untuk membentuk seperti cambuk, flagella digunakan bakteri sebagai alat gerak (Pramono 2007).
Bentuk yang umum dijumpai meliputi:
Ø  Monopolar monotrikha :bakteri memliki satu flagel yang berada disalah satu ujung sel.
Ø  Monopolar lofotrikha: memiliki banyak flagel yang ditemukan pada salah satu kutub sel.
Ø  Bipolar amfritrikha: memiliki flagel pada kedua kutubnya dengan jumlah lebih dari satu.
Ø  Peritikha: bakteri mempunyai flagel yang tersebar pada seluruh bagian selnya (Karser 2004)
Tidak semua bakteri mempunyai daya motilitas, ada bakteri yang tidak mempunyai alat gerak       yaitu flagella sehingga berdasarkan letak dan jumlah flagel pada sel bakteri, jenis ini digolongkan dalam bakteri ( Pramono 2007).
Banyak sel bakteri dapat bergerak dengan menggunakan flagel, akan tetapi ada bakteri yang tidak dapat bergerak karena lidah memiliki flagel. Hal ini senada dengan penyataan taringan (1988) yang menyatakan bahwa gerak bakteri terjadi pada bakteri yang mempunyai flagel, karena flagel ini merupakan alat gerak bagi sel bakteri. Flagel merupakan bulu cambuk yang dimiliki oleh beberapa jenis bakteri dan letaknya berbeda-beda tergantung kepada spesiesnya (Budiyanto 2008).
Flagel tersusun atas tiga bagian yaitu:
Ø  Pangkal (basal) merupakan bagian yang berhubungan dengan membrane plasma.
Ø  Kook yang panjang.
Ø  Filamen yang bentuknya seperti benang (Budiyanto 2008).
Struktur bakteri yang berflagel itu kaku dan dilengkapi dengan gelendong yang berbentuk spiral. Gelendong spiral tersusun atas protein yang disebut dengan flagelin yang merupakan unit dasar penyusun flagella (Gross 1995).
Gerak bakteri yang bersifat motil diakibatkan oleh adanya struktur atau organ sel bakteri yang berbentuk benang yang flagelia. Flagella panjang dan ramping. Pada umumnya memiliki panjang sekitar 12-30 mm. Untuk bisa melihat jelas pergerakan flagella bakteri digunakan zat warna tertentu (Waluyo 2008).
            Menurut volk (1988) kemampuan suatu organisme bergerak sendiri disebut motilitas (daya gerak). Hamper semua sel bakteri spiral dan sebagian dari sel bakteri basil bersifat motil (bergerak), sedangkan bakteri yang berbentuk kokus bersifat tidak bergerak (non motil).
Pada awal oksidase suatu substrat oleh jasad renik, hydrogen dipindahkan dari substrat tersebut oleh enzim khusus yaitu dehidrogenase. Melalui kerja enzim pernafasan, kemudian atom hydrogen tersebut dibawa ke penerima terakhir. Sebagai penerima atom H dan electron terakhir adalah zat warna atau indicator oksidasi-reduksi. Zat warna akan tereduksi dan berubah warna.
Data dan hasil pengamatan menunjukkan bahwa uji menghasilkan reaksi positif, artinya bakteri sample tersebut mampu melakukan aktivitas enzim dehidrogenase. Hal tersebut dibuktikan dengan timbulnya warna merah muda pada kertas saring diatas kaca preparat yang telah digoreskan sample dan ditambahkan pereaksi p-aminodimethylaniline 1 %. Warna merah muda terlihat jelas apabila dibandingkan dengan warna kontrolnya.
Uji katalase dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya enzim katalase. Enzim tersebut merupaka katalisator dalam penguraian hydrogen-peroksida (H2O2) untuk menghasilkan oksigen dan air.
Data dan hasil pengamatan menunjukkan bahwa hasil uji ialah positif, artinya bakteri tersebut mengandung enzim katalase. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya gelembung udara pada sample yang telah diberi pereaksoi hydrogen peroksida. Gelembung-gelembung tersebut dapat terlihat lebih jelas apabila dibandingkan perubahannya dengan control.Gelembung yang terjadi termasuk ke dalam jumlah gelembung yang cukup banyak, sehingga bakteri tersebut memiliki aktivitas yang kuat.
Uji katalase digunakan untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri yang diuji. Kebanyakan bakteri memproduksi enzim katalase yang dapat memecah H2O2 menjadi H2O dan O2. Enzim katalase diduga penting untuk pertumbuhan aerobik karena H2O2yang dibentuk dengan pertolongan berbagai enzim pernafasan bersifat racun terhadap sel mikroba. Beberapa bakteri yang termasuk katalase negatif adalah Streptococcus, Leuconostoc,Lactobacillus, dan Clostridium (Gross 1995).
Organisme yang tidak memproduksi katalase dilindungi oleh penanaman dengan jaringan hewan atau tumbuhan atau organisme lain yang mempunyai kemampuan memproduksi enzim. Katalase diproduksi oleh beberapa bakteri. Beberapa bakteri diantaranya memproduksi katalase lebih banyak daripada yang lain. Ini ditunjukkan dengan jumlah yang banyak pada bakteri aerob. Sedangkan enzim tidak diproduksi oleh bakteri anaerob obligat karena mereka tidak memerlukan enzim tidak diproduksi oleh bakteri anaerob obligat karena mereka tidak memerlukan enzim tersebut (Gross 1995).
Bakteri katalase positif bisa menghasilkan gelembung-gelembung oksigen karena adanya pemecahan H2O2(hidrogen peroksida) oleh enzim katalase yang dihasilkan oleh bakteri itu sendiri. Komponen H2O2 ini merupakan salah satu hasil respirasi aerobik bakteri, dimana hasil respirasi tersebut justru dapat menghambat pertumbuhan bakteri karena bersifat toksik bagi bakteri itu sendiri. Oleh karena itu, komponen ini harus dipecah agar tidak bersifat toksik lagi (Hastutik 2002).
Bakteri katalase negatif tidak menghasilkan gelembung-gelembung. Hal ini berarti H2O2 yang diberikan tidak dipecah oleh bakteri katalase negatif, misalnya, L.casei sehingga tidak menghasilkan oksigen. Bakteri katalase negatif tidak memiliki enzim katalase yang menguraikan H2O2 (Hastutik 2002).
Mekanisme enzim katalase memecah H2O2 yaitu saat melakukan respirasi, bakteri menghasilkan berbagai macam komponen salah satunya H2O2. Bakteri yang memiliki kemampuan memecah H2O2 dengan enzim katalase maka segera membentuk suatu sistem pertahanan dari toksik H2O2 yang dihasilkannya sendiri. Bakteri katalase positif akan memecah H2O2 menjadi H2O dan O2 dimana parameter yang menunjukkan adanya aktivitas katalase tersebut adalah adanya gelembung-gelembung oksigen seperti pada percobaan yang telah dilakukan.Dengan enzim katalase, H2O2 diurai dengan reaksi sebagai berikut.
2H2O2                             2H2O + O2
(Karser 2004).
Gelatin adalah protein yang diperoleh dari hidrolisa kalogen yitu zat pada jaringan penghubung dan tendon dari hewan. Gelatin akan terurai oleh jasad renik yang mempunyai enzim proteolitik. Larutan gelatin bersifat cair pada suhu ruang atau suhu kamar dan padat apabila berada dalam lemari es. Bila gelatin telah dihidrolisa oleh jasad renik akan tetap bersifat cair meskipun berada dalam lemari es (Hadioetomo 1993).
Data dan hasil pengamatan menunjukkan bahwa uji gelatin menghasilkan uji positif, sehingga sample agar miring merupakan bakteri proteolitik yaitu bakteri yang dapat mendegradasi gelatin menjadi gliserol dan mengandung enzim proteolitik. Hal tersebut dibuktikan dengan media gelatin setelah dicampurkan sample dan dimasukkan ke dalan=m lemari es, hasilnya akan tetap berbentuk cair.
Gelatin adalah suatu zat yang meleleh pada atau di atas 28oC, sehingga harus dibudidayakan di suhu 25oC (suhu kamar)
Hidrolisis gelatin terjadi karena bakteri menghasilkan gelatinase untuk menghidrolisis polimer protein, gelatin, untuk asam amino. Gelatin protein merupakan polimer besar asam amino yang terlalu besar untuk masuk ke dalam membrane sel. Dalam rangka memanfaatkan gelatin, exoenzim proteolitik bakteri mensekresi gelatinase dan peptidase untuk mencerna gelatin luar sel (Pramono 2007).
Bakteriproteolitik adalah bakteri yangmemproduksi enzim protease ekstraseluler, yaitu enzim pemecah protein yang diproduksi di dalamsel kemudian dilepaskan keluar dari sel. Semua bakteri mempunyai enzim protease di dalam sel, tetapi tidak semua mempunyai enzim protease ekstraseluler (Adam 1992).
Bakteri proteolitik dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok:
1.     Bakteri aerobik atau anaerobik fakultatif, tidak membentuk spora, misalnya Pseudomonas dan Proteus.
2.     Bakteri aerobik atau anaerobik fakultatif, membentuk spora, misalnya Bacillus.
3.     Bakteri anaerobik pembentuk spora, misalnya sebagian spesies Clostridium (Waluyo 2008).
Media O/F merupakan salah satu media yag digunakan untuk pengujian fisio-metabolisme suatu bakteri yaitu untuk mengetahui kemampuan memecah karbohidrat (glukosa) dalam suasana aerobic (oksidatif) dan anaerobic (fermentative).
Data dan hasil pengamatan menunjukkan bahwa uji tersebut merupakan uji positif baik dengan penamabahan paraffin maupun tanpa paraffin, artinya bakteri dalam sample dapat memanfaatkan glukosa atau karbohidrat dalam keadaan aerob maupun anaerob. Hal tersebut ditunjukkan dengan perubahan warna hijau menjadi kuning baik pada tabung reaksi dengan penambahan maupun tanpa penambahan paraffin setelah dilakukan inkubasi selama 2x24 jam.
Bakteri aerob adalah salah satu penggolonga bakteri berdasarkan kebutuhan bakteri terhadap oksigen. Bakteri aerob merupakan jenis bakteri yang memerlukan oksigen bebas untuk kelangsungan hidupnya. Bakteri yang tergolong bakteri aerob hidupnya mutlak memerlukan oksigen dalam keadaan bebas. Ada pula yang kebutuhan aka oksigennya bersifat tidak mutlak, yaitu bakteri aerob fakultatif (Pelzar 2006).
Disamping metabolisma aerob, dan fermentasi terdapat metabolisma lain yang pada umumnya bersifat anaerob. Akan tetapi mikroorganisme tersebut tidak melakukan fermentasi. Bakteri tersebut menggunakan senyawa anorganik sebagai aseptor elektron terakhirnya. Organisma tersebut dapat dibagai dalam 3 kelompok yaitu : reduser sulfat, reduser nitrat dan bakteri metan. Yang perlu diingat bahwa, meskipun tipe metabolismenya adalah anaerob, elektron yang dibebaskan melalui reaksi oksidasi ditransfer melalui serangkaian transfer elektron dan energi dihasilkan melalui fosforilasi oksidatif. Letak perbedaan antara resfirasi aerob dan anaerob adalah bahwa pada respiriasi anaerob yang berperan sebagai aseptor elektron terkahir adalah senyawa anorganik, bukan oksigen (Dwidjoseputro 2003).
Bakteri gram negative adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu atau kristal ungu pada metode pewarnaan gram. Bakteri gram positif akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alcohol, sementara bakteri gram negative tidak. Pada uji pewarnaan gram, suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metal ungu atau Kristal ungu, yang membuat semua bakteri gram negative menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian tersebut berguna untuk mengklasifikasikan  kedua tipe bakteri tersebut berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka (Karmana 2008).
Setelah didapatkan data dan hasil pengamatan pada uji motilitas, uji oksidase, uji katalase, uji gelatin, dan uji O/F, menghasilkan perkiraan bakteri gram positif yaitu denga genus Listeria dan Basillus. Sedangkan pada bakteri gram negative menghasilkan perkiraan genus Chromobacterium lixidium, Pseudomonas, Chromobacterium violaceum, Beneckea, Vibrio, Pleisiomonas, dan Aeromonas. Perkiraan tersebut didasarkan pada table tahap awal pengelompokkan bakteri gram positif dan gram negative.

Simpulan
Berdasakan data dan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa uji motilitas, uji oksidase, uji katalase, uji gelatin, dan uji O/F, menunjukkan hasil yang positif. Kemudian dapat dilakukan perkiraan bakteri gram positif yaitu dengan genus Listeria dan Basillus. Sedangkan pada bakteri gram negative menghasilkan perkiraan genus Chromobacterium lixidium, Pseudomonas, Chromobacterium violaceum, Beneckea, Vibrio, Pleisiomonas, dan Aeromonas.








Daftar Pustaka
Adam Syamsunir.1992. Dasar-Dasar Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Perawatan.Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Budiyanto , moch. agus krino. 2008. Klasifikasi Mikroorganisme .
Malang: umm press.
Capuccino,JG,&Sherman,N. 1992. Microbiology a Laboratory Mannual. Amerika : The Benjamin/Cumming public.
Dwijoseputro. 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.
Gross,1995. Introgductary Microbiology. London : chaswaan hall university and profesional
Hadioetomo,RS. 1993.Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek, Teknik Dan Prosedur Dasar Laboratorium.Jakarta:PT Gramedia Pustaka
Hastutik, Sri utami, 2002. Petunjuk Praktikum Mikro. Malang :UMM press
Karmana Oman. 2008. Biologi. Jakarta : PT Grafindo Media Pratama
Karser, gery. 2004. Microbiology laboratory manualNew York : Cotons ville campus of the comunity collage of balsimere country
Pelezer, M. 2006. Mikrobiologi Dasar. Dwijoseputro, penerjemah. Jakarta : universitas Indonesia Press. Terjemahan dari : Basics of Microbiology.
Pramono, hendro. 2007. Penggolongan Mikroba. Bandung: kurnia.
Volk, 1988. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Waluyo, lud. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. Malang:
umm press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar