Rabu, 04 Januari 2012

Laporan Praktikum Mikrobiologi : Uji Aktivitas Antimikroba

Pendahuluan
Mikrobiologi adalah suatu cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang mikroorganisme dan interaksi mereka dengan organisme lain dan lingkungannya. (Singleton.2006)
Sejarah tentang mikroba dimulai dengan ditemukannya mikroskop oleh Leeuwenhoek (1633-1723). Mikroskop temuan tersebut masih sangat sederhana,
dilengkapi satu lensa dengan jarak fokus yang sangat pendek, tetapi dapat menghasilkan bayangan jelas yang perbesarannya antara 50-300 kali. (Skou, dan Sogaard Jensen. 2007)
Mikroba ialah jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk bertahan hidup. Jasad tersebut dapat hidup hamper di semua tempat di permukaan bumi. Mikroba mampu beradaptasi dengan lingkungan yang sangat dingin hingga lingkungan yang relative panas, dari ligkungan yang asam hingga basa. Berdasarkan peranannya, mikroba dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu mikroba menguntungkan dan mikroba merugikan (Afriyanto 2005).
Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara. Senyawa antimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan mekanisme daya kerjanya atau tujuan penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara fisik atau kimia dan berdasarkan peruntukannya dapat berupa desinfektan, antiseptic, sterilizer, sanitizer dan sebagainya (Lutfi 2004).
Mekanisme daya kerja antimikroba terhadap sel dapat dibedakan atas beberapa kelompok sebagai berikut diantaranya merusak dinding sel, mengganggu permeabiitas sel, merusak molekul protein dan asam nukleat, menghambat aktivitas enzim, menghambat sintesa asam nukleat. Aktivitas antimikroba yang dapat diamati secara langsung adalah perkembangbiakannya. Oleh karena itu antimikroba dibagi menjadi dua macam yaitu antibiotic dan disinfektan. Antibiotik adalah senyawa yang dihasilkan oleh microorganisme tertentu yang mempunyai kemapuan menghambat pertumbuhan bakteri atau bahkan membunuh bakteri walaupun dalam konsentrasi yang rendah. Antibiotik digunakan untuk menghentikan aktivitas mikroba pada jaringan tubuh makhluk hidup sedangkan desinfektan bekerja dalam menghambat atau menghentikan pertumbuhan mikroba pada benda tak hidup, seperti meja, alat gelas, dan lain sebagainya. Pembagian kedua kelompok antimikroba tersebut tidak hanya didasarkan pada aplikasi penerapannya melainkan juga terhadap konsentrasi mikroba yang digunakan (Soekardjo 1995).

Tujuan
Praktikum bertujuan menguji aktivitas antimikroba dari bahan-bahan yag diujikan seperti penicillin, streptomycin, betadine, detol, ekstrak kunyit, dan ekstrak cengkeh.

Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan yaitu Erlenmeyer, pipet mohr 1 ml, bulp merah, cawan petri, kertas cakram, spreader, pinset, dan spirtus.
Bahan-bahan yang digunakan ialah penicillin, streptomycin, betadine, detol, ekstrak cengkeh, ekstrak kunyit, larfis 0,85 %, PCA (Plate Count Agar), alcohol 70 %, bakteri Aeromonas, bakteri Streptococcus, bakteri Bacillus, dan bakteri Staphilococcus.

Prosedur
Suasana steril harus diciptakan dari awal praktikum hingga akhir praktikum. Terlebih dahulu, tangan dicuci dengan sabun dan dibilas dengan air hingga bersih. Tangan dikeringkan dan kemudian tangan dan meja dibasahi dengan alcohol 70% hingga tangan dan area kerja  steril serta kering. Bakteri yang terdapat di dalam Erlenmeyer, dipipet 0,2 ml mengunakan pipet mohr kemudian dimasukkan ke dalam cawan petri yang berisi media PCA. Kemudian bakteri sudah ada dalam media PCA, diratakan secara menyeluruh pada media PCA dengan menggunakan spreader. Lalu media yang telah rata oleh bakteri dibagi menjadi dua bagian. Kertas cakram yang berbentuk lingkaran kecil dibasahi oleh bahan antimikroba yaitu penicillin, streptomycin, betadine, detol, ekstrak cengkeh, dan ekstrak kunyit. Kertas cakram juga dibasahi oleh larutan larutan fisiologis (larfis) 0,85% yang digunakan sebagai pembanding. Kerta cakram yang telah dibasahi bahan antimikroba dan larfis tersebut dimasukkan ke dalam cawan petri sebelumnya dengan menggunakan pinset. Masing-masing cawan petri hanya diperbolehkan terisi oleh dua bahan antimikroba, sehingga dibutuhkan

Data dan hasil pengamatan
Tabel 1 daya hambat pertumbuhan bakteri oleh zat antimokroba

No
Biakan bakteri murni
Bahan
antimikroba
Diameter
Keterangan
1
Aeromonas
Antibiotik I (Pinisilin)
3,0 cm
-


Antibiotik 2 (Streptomicin)
4,7 cm
-


Antiseptik I ( Betadine)
2,0 cm
-


Antiseptik 2 (Detol)
3,8 cm
-


Ekstrak Kunyit
2,5 cm
-


Ekstrak Cengkeh
1,7 cm
-


Larfis
-
-
2
Bacillus
Antibiotik I (Pinisilin)
0,8 cm
-


Antibiotik 2 ( Streptomicin)
1,2 cm
-


Antiseptik I ( Betadine)
2,5 cm
-


Antiseptik 2 (Detol)
0,9 cm
-


Ekstrak Kunyit
1,5 cm
-


Ekstrak Cengkeh
1,0 cm
-


Larfis
-
-
3
Stapilococus
Antibiotik I (Pinisilin)
1,1 cm
-


Antibiotik 2 ( Streptomicin)
3,0 cm
-


Antiseptik I ( Betadine)
1,4 cm
Terdapat warna merah disekitar diameter


Antiseptik 2 (Detol)
1,7 cm
Terdapat warna merah disekitar diameter


Ekstrak Kunyit
0,5 cm
-


Ekstrak Cengkeh
0,4 cm
-


Larfis
-
-
4
Streptococus
Antibiotik I (Pinisilin)
0,9 cm
-


Antibiotik 2 ( Streptomicin)
1,1 cm
-


Antiseptik I ( Betadine)
2,0 cm
-


Antiseptik 2 (Detol)
1,2 cm
-


Ekstrak Kunyit
0,9 cm
-


Ekstrak Cengkeh
1,0 cm
-


Larfis
-
-

Gambar 1. Uji aktivitas antimikroba streptomycin dan penicillin terhadap bakteri Staphilococcus
Gambar 2. Uji aktivitas antimikroba betadine dan detol terhadap bakteri Staphilococcus










Gambar 3. Uji aktivitas larutan fisiologis 0,85 % terhadap bakteri Staphilococcus







Gambar 4. Uji aktivitas antimikroba ekstrak kunyit dan ekstrak cengkeh terhadap bakteri Staphilococcus

Pembahasan
Bahan antimikroba berfungsi untuk mematikan, merusak, menghambat pertumbuhan dari mikroba. Antimikroba bekerja dengan cara merusak dinding sel atau merusak protein dari mikroba sehingga mikroba tersebut mati. Bahan antimikroba bekerja dengan beberapa mekanisme yaitu membunuh dirinya sendiri, mempertahankan hidupnya, dan melawan bakteri lain (Widjajanti 1996).
Digunakan metode pengujian difusi agar untuk mengetahui aktivitas antimikroba. Mikroba uji dicampurkan dengan media pertumbuhan (Nutrien broth) dan dituang ke dalam cawan petri sehingga membentuk lempeng agar. Di lempeng agar dibuat sumur yang kedalamnya dimasukkan larutan uji. Setelah proses inkubasi dilakukan pengukuran diameter hambat berupa zona bening di sekitar sumur yang menunjukkan penghambatan pertumbuhan mikroba (Pelczar dan Chan, 1988). Nilai diameter hambat masing-masing kelompok uji di rata-ratakan, kemudian hasilnya dibandingkan dengan nilai rata-rata diameter hambat kelompok kontrol.
Perlakuan aseptik ialah perlakuan yang bertujuan  terbebas dari mikroorganisme. Aseptik diimbangi dengan sterilisasi yang merupakan upaya untuk menghilangkan kontamina mikroorganisme yang menempel pada alat atau bahan yang akan dipergunakan untuk analisa selanjutnya (Jati 2007).
Proses sterilisasi sangat penting dibutuhkan sebelum memulai maupun mengakhiri sebuah pekerjaan di laboratorium. Alkohol 70% yang disemprotkan pada tangan dan meja, bahkan tangan pun sebelumnya harus dicuci dengan sabun terlebih dahulu. Hal tersebut berfungsi untuk membunuh mikroorganisme yang tak diinginkan agar mendapatkan pengukuran yang akurat. Proses pemindahan mikroba secara aseptic sangat membutuhkan ketelitian yang tinggi. Jika tidak, kesalahan dalam teknik sedikit saja akan mempengaruhi semua hasil pengamatan. Oleh karena itu, dalam melakukan pemindahan mikroba dari media yang lama, menuju media yang baru harus mengetahui teknik dan menjaga kesterilan bahan maupun alat yang digunakan (Dwijoseputro 2003).
Bahan antimikroba yang diujikan pada percobaan ialah penicillin, streptomycin, betadine, detol, ekstrak kunyit, dan ekstrak cengkeh. Sedangkan larutan larfis 0,85 % yang berisi larutan garam NaCl 0,85 % hanya berfungsi sebagai pembanding dengan bahan antimikroba lainnya. Bakteri yang digunakan yaitu bakteri Aeromonas, bakteri Streptococcus, bakteri Bacillus, dan bakteri Staphilococcus yang terdapat didalam Erlenmeyer dipipet sebanyak 0,2 ml dan kemudian disebarkan di atas cawan petri yang berisi media PCA yang bertujuan untuk menumbuhkan bakteri pada media PCA tersebut dan dapat digunakan untuk menguji aktivitas antimikroba. Spreader digunakan untuk meratakan bakteri sehingga menyeluruh di dalam media. Kemudian media yang berada di dalam cawan petri dan telah berisi bakteri di belah menjadi dua bagian, untuk dijadikan tempat uji bahan antimikroba, sehingga satu cawan petri terdapat dua bahan anti mikroba. Kertas cakram yang berbentuk seperti kertas saring yang berukuran lingkatan kecil dicelupkan ke dalam bahan antimikroba, lalu dipindahkan dengan menggunakan pinset ke dalam cawan petri. Penggunaan pinset bertujuan untuk menghindari adanya lemak apabila tangan menyentuh kertas cakram secara langsung, sehingga akan mempengaruhi perkembangan diameter. Setelah di inkubasi selama 2x24 jam, akan muncul zona bening (zona antimikroba) yang berbentuk menyerupai lingkaran yang memiliki diameter, lalu diameter tersbut akan diukur. Zona bening tersebut adalah area perkembangan aktivitas bahan antimikroba terhadap bakteri yang ada di sekitarnya. Apabila larutan fisiologis yang diujikan, maka bakteri tersebut akan tumbuh subur didalam larfis dan tidak ada diameter yang terbentuk karena larfis hanya sebagai pembanding bukan bahan antibiotic.
Data dan hasil pengamatan menunjukkan bahwa penicilin yang diujikan pada bakteri Staphilococcus menghasilkan diameter 1,1 cm, pada bakteri Streptococcus berdiameter 1,7 cm, pada bakteri Aeromonas berdiameter 2 cm, dan pada bakteri Bacillus berdiameter 2 cm. Streptomycin yang diujikan pada bakteri Staphilococcus menghasilkan diameter 3 cm, pada bakteri Streptococcus berdiameter 1,9 m, pada bakteri Aeromonas berdiameter 5 cm, dan pada bakteri Bacillus berdiameter 3 cm.
Betadine yang diujikan pada bakteri Staphilococcus menghasilkan diameter 1,4 cm dan terdapat warna merah pada sekeliling antibiotik, pada bakteri Streptococcus berdiameter 1,5 cm, pada bakteri Aeromonas berdiameter 2,2 cm, dan pada bakteri Bacillus berdiameter 3 cm. Warna merah yang mengelilingi antimikroba adalah kontaminan yang disebabkan oleh adanya pengaruh bakteri lain dari udara yang tumbuh, karena larutan antibiotic belum kering dan menetes. Tetesannya mengalir sehingga area bening bukan berbentuk lingkaran. Dapat juga disebkan oleh perlakuan yang kurang aseptic. Kontaminan dapat dideteksi dengan adanya warna selain warna bening misalnya warna merah.
Detol yang diujikan pada bakteri Staphilococcus menghasilkan diameter 1,7 cm dan terdapat warna merah pada sekeliling antibiotik, pada bakteri Streptococcus berdiameter 1,0 cm, pada bakteri Aeromonas berdiameter 3,5 cm, dan pada bakteri Bacillus berdiameter 2,5 cm. Ekstrak kunyit yang diujikan pada bakteri Staphilococcus menghasilkan diameter 0,4 cm, pada bakteri Streptococcus berdiameter 1,4 cm, pada bakteri Aeromonas berdiameter 1,0 cm, dan pada bakteri Bacillus berdiameter 1.5 cm. Ekstrak cengkeh yang diujikan pada bakteri Staphilococcus menghasilkan diameter 0,4 cm, pada bakteri Streptococcus berdiameter 1,5 cm, pada bakteri Aeromonas tidak menghaslkan berdiameter, dan pada bakteri Bacillus berdiameter 1,0 cm. Ekstrak cengkeh pada bakteri Aeromonas tidak menghasilkan zona bening karena kemungkinan bakteri yang harusnya meyebar secara merata pada media PCA, pada kenyataannya tidak tersebar merata sehingga antibiottik tidak bisa menghambat pertumbuhan bakteri dan tak ada diameter yang dihasilkan, kemudian dapat pula disebabkan karena perlakuan yang kurang aseptic.
Data dan hasil pengamatan menunjukkan bahwa penicillin, streptomycin, betadine, detol, dan ekstrak kunyit merupakan bahan antimikroba yang cocok untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphilococcus, Streptococcus, Aeromonas, dan Bacillus, kecuali ekstrak cengkeh yang tidak cocok untuk penghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas karena tidak dapat menghasilkan zona bening dan bakteri Aeromonas dapat tumbuh subur meskipun iberikan antimikroba. Semua bahan antimikroba menunjukkan aktivitasnya dalam menghambat pertumbuhan bakteri  karena semuanya hampir menunjukkan adanya zona bening walaupun masih terdapat kontamina yang berwarna merah. Zona bening tersebut terjadi karena antimikroba akan mengakibatkan pembentukan cincin-cincin hambatan di dalam area pertumbuhan bakteri yang padat sehingga tak ada bakteri yang tumbuh di dalam cincin tersebut. Keampuhan suatu ntimikroba dapat dilihat dari seberapa besar zona bening yang terbentuk akibat berdifusinya zat antibiotika tersebut, Antimikroba yang berbeda memiiki laju difusi yang berbeda pula, karena itu keampuhan antimikroba satu sama lain tidak sama (Wilson 1982).

Simpulan
Data dan hasil pengamatan dapat disimoulkan bahwa bahwa penicillin, streptomycin, betadine, detol, dan ekstrak kunyit merupakan bahan antimikroba yang cocok untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphilococcus, Streptococcus, Aeromonas, dan Bacillus, kecuali ekstrak cengkeh yang tidak cocok untuk penghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas karena tidak dapat menghasilkan zona bening

Daftar Pustaka
Suwandi U. 1999. Peran Media Untuk Identifikasi Mikroba Patogen Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta : Grup Kalbe Farma.
Pelczar M.J. dan Chan. 1988.  Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 1. Jakarta : UI Press.
Afriyanto Eddy. 2005. Pakan Ikan dan Perkembangannya. Jakarta : Penerbit Kanisius.
Jati Wijaya. 2007. Biologi Interaktif. Jakarta : Ganeca Exact.
Singleton Paul.2006. Dictionary of Microbiology And Molecular Biology Third Edition. England : John wiley & Sons Inc.
Skou Torben dan Sogaard Jensen Gunnar. 2007. Microbiologi. Englang : Forfattern Og Systime.
Soekardjo Siswandono, 1995. Kimia Medisinal. Jakarta : Airlangga University Press .
Widjajanti U. 1996. Obat-Obatan. Yogyakarta : Kanisius.
Wilson Gisvold. 1982. Buku Teks Wilson dan Gisvold Kimia Farmasi dan Medisinal Organik. Semarang : IKIP Semarang Press.
Dwijoseputro. 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan .
Lutfi Ahmad. 2004. Kimia Lingkungan. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar