Rabu, 04 Januari 2012

Laporan Praktikum Mikrobiologi : Isolasi Yeast dari Tape Ketan dan Tape Singkong

Pendahuluan
Khamir (yeast) merupakan jasad renik (mikroorganisme) yang pertama digunakan manusia dalam industry pangan. Yeast adalah salah satu mikroorganisme yang termasuk dalam golongan fungi  yang dibedakan bentuknya dari mould (kapang) karena berbentuk uniseluler. Reproduksi vegetative pada khamir terutama dengan cara pertunasan. Sebagai sel tunggal yeast tumbuh dan berkembang biak lebih cepat dibandingkan dengan mould yang tumbuh dengan pembentuk filamen. Yeast sangat mudah dibedakan dengan mikroorganisme yang lain misalnya dengan bakteri, yeast mempunyai ukuran sel yang lebih besar dan morfologi yang berbeda. Sedangkan dengan protozoa, yeast mempunyai dinding sel yang lebih kuat serta tidak melakukan fotosintesis bila dibandingkan dengan gangggang atau algae. Dibandingkan dengan kapang dalam pemecahanbaha komponen kimia yeast lebih efektif memecahnya dan lebih luas permukaan serta volume hasilnya lebih baik (Buckle 1987).
Khamir terdapat dalam tape dalam bentuk Saccharomyces cerevisiae yang terkandung dalam ragi. Tape adalah sejenis panganan yang dihasilkan dari proses peragian (fermentasi). Tape dapat dibuat dari singkong (obi kayu) dan hasilnya dinamakan tape singkong. Bila dibuat dari ketan hitam maupun ketan putih hasilnya dinamakan tape ketan atau tape pulut. Tape yang dibuat dari ubi kayu maupun beras ketan, memunyai nilai gizi lebih baik dibandingkan nilai gizi bahan dasarnya. Fermentasi melibatkan beberapa jenis mikroba terutama yeast dan kapang, yang mampu mengubah senyawa gizi makromolekul menjadi lebih sederhana, sehingga mudah dicerna dan diserap oleh usus. Disamping itu, selama fermentasi terjadi sintesa protein hingga kuantitasnya mengalami peningkatan dua kali lipat, dan vitamin B1 (thiamine) mengalami peningkatan sebesar 300 % (Fardiaz 1992).
Dalam pembuatan tape, untuk manghasilkan produk yang bagus diperlukan bahan pilihsn, terutama adalah ragi (starter). Rag merupakan bahan utama dan penting dalam pembuatan tape. Didalam ragi terkandung mikroba Saccharomyces cerevisiae. Mikroba tersebut mengeluarkan enzim yang berguna dalam proses fermentasi. Kesterilan ragi dan bahan dasar pembuatan tape ketika akan digunakan adalah penting. Terutama supaya tidak terkontaminasi mikroorganisme lain. Hal tersebut akan menghambat proses fermentasi. Dalam produk bisa terdapat mikroba beracun yang berbahaya (Angga 2007).

Tujuan
Praktikum bertujuan untuk mengisolasi yeast atau khamir dari tape singkong dan tape ketan dan membandingkan banyaknya yeast yang tumbuh pada tape ketan dan tape singkong.

Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan ialah tabung reaksi bertutup, sudip, spirtus, mikro pipet, blue tips, spreader, dan rak tabung reaksi.
Bahan-bahan yang digunakan ialah tape singkong, tape ketan, larutan fisiologis 0,85 %, dan alcohol 70 %.

Prosedur
Suasana steril harus diciptakan dari awal praktikum hingga akhir praktikum. Terlebih dahulu, tangan dicuci dengan sabun dan dibilas dengan air hingga bersih. Tangan dikeringkan dan kemudian tangan dan meja dibasahi dengan alcohol 70% hingga tangan dan area kerja  steril serta kering. Tape singkong atau tape ketan diambil sebanyak seujung sudip saja (kira-kira 1 gram) dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi larfis 0,85 %. Kemudian dikocok kuat hingga tercampur seluruhnya. Lalu larutan tersebut dipipet sebanyak 1 ml menggunakan micropipette dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi larfis 0,85% (10-1), lalu dikocok hingga tercampur sempurna. Perlakuan atau pengenceran tersebut dilakukan hingga tujuh kali atau  hingga pengenceran 10-7. Pengenceran 10-6 dan 10-7 dipipet 0,2 ml ke dalam cawan petri yang berbeda. Cawan petri tersebut telah berisi media PDA (Potato Dextro Agar). Biakan tersebut diratakan seluruhnya di cawan petri menggunakan spreader. Lalu diinkubasi selama 2x24 jam. Kemudian setelah diinkubasi, dilakukan pengamatan dibawah mikroskop untuk melihat tunas atau budding dengan cara mengambil bakteri yang tidak mengkilap didalam caean petri, Lalu dipindahkan ke kaca preparat dan ditetesi lactofenol blue, ditutup dengan cover glass. Lalu diamati dibawh mikroskop.

Data dan Hasil Pengamatan
Tabel 1 hasil isolasi yeast dari tape dan ketan
Sampel
Hasil pengamtan
106
107
Tape singkong
+
+
Tape ketan
+
+

Gambar 1 hasil isolasi tape singkong pada pengenceran 106
Gambar 2 hasil isolasi tape singkong pada pengenceran 107
Gambar 3 hasil isolasi tape ketan pada pengenceran 106
                                 Gambar 4 hasil isolasi tape ketan pada pengenceran 107

Pembahasan
Perlakuan aseptik ialah perlakuan yang bertujuan  terbebas dari mikroorganisme. Aseptik diimbangi dengan sterilisasi yang merupakan upaya untuk menghilangkan kontamina mikroorganisme yang menempel pada alat atau bahan yang akan dipergunakan untuk analisa selanjutnya (Jati 2007).
Proses sterilisasi sangat penting dibutuhkan sebelum memulai maupun mengakhiri sebuah pekerjaan di laboratorium. Alkohol 70% yang disemprotkan pada tangan dan meja, bahkan tangan pun sebelumnya harus dicuci dengan sabun terlebih dahulu. Hal tersebut berfungsi untuk membunuh mikroorganisme yang tak diinginkan agar mendapatkan pengukuran yang akurat. Proses pemindahan mikroba secara aseptic sangat membutuhkan ketelitian yang tinggi. Jika tidak, kesalahan dalam teknik sedikit saja akan mempengaruhi semua hasil pengamatan. Oleh karena itu, dalam melakukan pemindahan mikroba dari media yang lama, menuju media yang baru harus mengetahui teknik dan menjaga kesterilan bahan maupun alat yang digunakan (Dwijoseputro 2003).
Sample yang digunakan pada percobaan ialah tape ketan dan tape singkong. Kedua macam jenis tape tersebut berfungsi agar mendapatkan perbandingan yang diketahui untuk bakteri atau mikroorganisme yang ada didalamnya mengalami pertumbuhan atau tidak. Kemudian tabung reaksi bertutup berisi larutan fisiologis disediakan delapan buah untuk sample dan pengenceran dari 10-1 hingga 10-7. Larutan fisiologis ialah larutan yang berisi NaCL 0,85 % yang dapat membuat mikroorganisme berkembang biak. Kemudian seujung sudip tape ketan atau tape singkong dimasukkan ke dalam larfis sample dan dilakukan pengocokan agar sample padat dapat terlarut dalam larfis. 1 ml sample diambil menggunakan micro pipet dan dimasukkan ke dalam cairan larfis 10-1, lalu dilakukan pengocokan. Pengenceran tersebut terus dilakukan hingga larfis 10-7. Pengenceran tersebut bertujuan untuk mendapatkan bakteri yang lebih sedikit sehingga dapat diketahui dengan jelas pertumbuhan mikroorganisme di dalam sample. Pengencer yang digunakan dalam percobaan ialah larutan fisiologis (larfis), namaun ada larutan lain yang juga berfungsi sama yaitu PBS (Phospat Buffer Salin), dan aquades steril. Pengenceran tersebut tentu juga dilakukan proses sterilisasi yaitu dengan memipet cairan sample 1 ml dan pengenceran selanjutnya dengan memipet 1 ml dari pekat ke rendah, menggunakan pipet mohr yang telah steril. Pipet mohr dsterilkan terlebih dahulu karena diinginkan tidak ada bakteri lain terutama dari pipet mohr yang mengganggu hasil sel bakteri yang sebenarnya. Kemudian teknik aseptik juga dilakukan saat perlakuan masing-masing sample dilakukan dekat apai karena api berfungsi sebagai pengsteril daerah kerja dan mulut tabung reaksi setelah dan sebelum dimasukkan sample, didekatkan ke arah api agar mikroorganisme yang tidak diinginkan terbunuh.
Setelah pengenceran selesai, maka dilanjutkan dengan perlakuan teknik cawan sebar. 1 ml masing-masing pengencer 10-6 dan 10-7, dipindahkan ke dalam cawan petri berisi agar PDA (Potato Dextro Agar). Teknik penyebaran dilakukan oleh spreader secara merata. Spreader sebelumnya juga mendapat perlakuan aseptic agar spreader tersebut steril dan tidak ada mikroorganisme lain yang ada pada spreader tersebut dan pengerjaan dilakukan di dekat api. Setelah semua perlakuan selesai, cawan petri dimasukkan ke dalam plastic yang telah dibasahi alcohol 70 % pada bagian dalamnya lalu diinkubasi selama 2x24 jam. Proses inkubasi berfungsi agar mikroorganisme bereproduksi atau tumbuh dalam media tersebut selama waktu 2x24 jam atau 2 hari.
Setelah melewati masa inkubasi selama 2x24 jam, baik tape ketan maupun tape singkong menghasilkan khamir atau yeast (Saccharomyces serevisiae) di dalamnya. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya mikroorganisme yang tumbuh dalam media PDA. Namun apabila diteliti lebih lanjut dengan menggunakan mikroskop, akan terlihat pertumbuhan tunas atau budding yaitu perkembang biakan secara vegetative. Selain tunas, perkembang biakan yeast dapat dilihat pula dari adanya sporangium yang didalamnya terdapat spora dan adanya sporangiosfor. Disamping itu juga dapat melihat hifa (rambut) dan miselium (kumpulan dari hifa) apabila dilakukan pengamatan pada mikroskop. Percobaan hanya menghasilkan adanya perkembangan mikroorganisme Saccharomyces serevisiae didalam sample. Namun tidak seluruhnya mikroorganisme yang tumbuh merupakan Saccharomyces serevisiae, kemungkinan akan terdapat bakteri lain yang juga ikut berkembang di dalm media PDA tersebut. Hal tersebut dikarenakan sample tape ketan atau tape singkong telah terkontaminasi oleh bakteri dari udara. Kemudian banyaknya yeast yang tumbuh lebih banyak tumbuh pada tape ketan dibandingkan tape singkong. Hal tersebut dikarenakan teknik aseptic yang lebih bagus pada pengerjaan tape ketan dibandingkan denga tape singkong dan bahan atau sample tape ketan yang digunakan lebih banyak mengandung yeast daripada tape singkong.
PDA kepanjangan dari Potato Dextose Agar yang terdiri dari ekstrak kentang, gula golongan dektrosa, dan agar. Sedangkan PSA terdiri dari gula pasir yang biasa kita konsumsi. PSA biasa dijual di toko kimia dalam bentuk bubuk siap pakai, harganya cukup mahal dan blia dibandingkan PDA tentu jauh terpaut. PDA biasa dipakai untuk penelitian mikrobiologi yang membutuhkan ketelitian dan kemurnian tinggi sedangkan PSA bersifat teknis (Angga 2007).
Cara pembuatan PDA yaitu dengan cara kentang dikupas, dicuci dan diiris dadu 1 x 1 cm. Rebus kentang dengan air 750 ml selama 20 menit. Pisahkan kentangnya dan ambil airnya (ekstrak). Tambahkan gula, agar dan air dalam ekstrak kentang hingga 1 liter. Rebus kembali hingga mendidih. Jangan terlalu lama mendidihkannya, tepat ketika mendidih saja. Tuangkan ekstrak tersebut ke dalam erlenmayer atau langsung ke tabung vial. Sumbat erlenmayer dengan kapas dan ditutup almunium foil. Tabung vial cukup ditutup dan balut dengan plastik wrapping. Sterilisasi dengan autoclaf selama 10 menit. Setelah selesai, PDA pada erlenmayer (dalam keadaan panas, karena kalau dingin akan membeku) tuang tipis ke petri dish dalam laminar air flow cabinet. Sedangkan PDA dalam tabung vial letakkan miring hingga agar mengeras. Celah pada tutup petri dish lapisi dengan plastik wrapping agar tidak ada celah dan menyebabkan kontaminasi. Setelah PDA membeku, media sudah dapat digunakan (Angga 2007)
Saccharomyces cerevisiae berkembang biak dengan cara berikut. Pertunasan multipolar, dimana tunas muncul dari sekitar ujung sel. Pembelahan tunas, yaitu gabungan antara pertunasan dan pembelahan. Pada proses ini mula-mula terbentuk tunas, tetapi tempat melekatnya tunas pada sel induk relatif besar, kemudian terbentuk septa yang memisahkan tunas dari induk selnya. Pada Saccharomyces, areal tempat melekatnya tunas pada induk sedemikian kecilnya sehingga seolah tidak pernah terbentuk septa (tidak dapat dilihat oleh mikroskop biasa). Pembentukan askospora. Pada khamir diploid seperti Saccharomyces cerevisiae, meiosis dapat terjadi langsung dari sel vegetatif. Spora berbentuk bulat atau oval dengan permukaan halus (Harmita 2006).
Saccharomyces cerevisiae berfungsi dalam pembuatan roti dan bir, karena Saccharomyces bersifat fermentatif (melakukan fermentasi, yaitu memcah glukosa menjadi karbon dioksida dan alkohol) kuat. Namun, dengan adanya oksigen, Saccharomyces juga dapat melakukan respirasi yaitu mengoksidasi gula menjadi karbon dioksida dan air (Harmita 2006).
Saccharaomyces cerevisiae adalah nama spesies yang termasuk dalam khamir berbentuk oval. Saccharomyces cerevisiae mempunyai mikrostruktur yang terdiri dari :
1. Kapsul
2. Dinding Sel Dinding sel khamir pada sel-sel yang muda sangat tipis, namun semakin lama semakin menebal seiring dengan waktu. Pada dinding sel terdapat struktur yang disebut bekas lahir (bekas yang timbul dari pembentukan oleh sel induk) dan bekas tunas (bekas yang timbul akibat pembentukan anak sel). Setiap sel hanya dapat memiliki satu bekas lahir, namun bisa membentuk banyak bekas tunas. Saccharomyces cerevisiae dapat membentuk 9 sampai 43 tunas dengan rata-rata 24 tunas per sel, dan paling banyak lahir pada kedua ujung sel yang memanjang.
3. Membran Sitoplasma
4. Nukleus
5. Vakuola
6. Mitokondria
7. Globula Lipid Saccharomyces cerevisiae mengandung lipid dalam jumlah sangat sedikit. Lipid ini disimpan dalam bentuk globula yang dapat dilihat dengan mikroskop setelah diberi pewarna lemak seperti Hitam Sudan atau Merah Sudan.
8. Sitoplasma (Harmita 2006).

Simpulan
Berdasarkan data dan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa tape ketan maupun tape singkong positif menghasilkan pertumbuhan khamir atau yeast (Saccharomyces serevisiae), namun ada kemungkinan tumbuhnya bakteri lain yang ikut berkembang biak bersama media PDA. Tape ketan lebih banyak menghasilkan yeast atau khamir dibandingkan  denga tape singkong.


Daftar Pustaka
Angga. 2007. Pembuatan Ragi Tape Menggunakan Inokulum Mikroba Murni. [terhubung berkala]. http://www.sith.itb.pembuatan-ragi-tape-menggunakan-inokulum-mikroba-murni.pdf. [18 November 2011. 19:30].
Buckle K.A. 1987. Ilmu Pangan. Jakarta : UI Press.
Dwijoseputro. 2003. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.
Fardiaz Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Harmita. 2006. Buku Ajar Analisis Hayati Edisi Ketiga. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jati Wijaya. 2007. Biologi Interaktif. Jakarta : Ganeca Exact.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar