Rabu, 04 Januari 2012

Laporan Praktikum Biokimia : Protein

Pendahuluan
Asam amino merupakan unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida pada setiap ujungnya. Protein tersusun dari atom C, H, O, dan N, serta kadang-kadang P dan S. Dari keseluruhan asam amino yang terdapat di alam hanya 20 asam amino yang biasa dijumpai pada protein.
struktur molekul asam amino
Gambar 1 Struktur molekul asam amino
Dari struktur umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya, yaitu gugus amino dan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar. Gugus amino dan gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat spesifiknya. Karena asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan reaksi kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya. Sebagai contoh adalah reaksi asetilasi dan esterifikasi. Asam amino juga bersifat amfoter, yaitu dapat bersifat sebagai asam dan memberikan proton kepada basa kuat, atau dapat bersifat sebagai basa dan menerima proton dari basa kuat (Lehninger 1988).
Protein merupakan biopolimer yang multifungsi, yaitu sebagai struktural pada sel maupun jaringan dan organ, sebagai enzim suatu biokatalis, sebagai pengemban atau pembawa senyawa atau zat ketika melalui biomembran sel, dan sebagai zat pengatur. (Hawab 2004). Melalui reaksi hidrolisis protein telah didapatkan 20 macam asam amino yang dibagi berdasarkan gugus R-nya, berikut dijabarkan penggolongan tersebut : asam amino non-polar dengan gugus R yang hidrofobik, antara lain Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin, Prolin, Fenilalanin, Triptofan dan Metionin. Golongan kedua yaitu asam amino polar tanpa muatan pada gugus R yang beranggotakan Lisin, Serin, Treonin, Sistein, Tirosin, Asparagin dan Glutamin. Golongan ketiga yaitu asam amino yang bermuatan positif pada gugus R dan golongan keempat yaitu asam amino yang bermuatan negatif pada gugus R. Dari ke-20 asam amino yang ada, dijumpai delapan macam asam amino esensial yaitu valin, leusin, Isoleusin, metionin, Fenilalanin, Triptofan, Treonin, dan Lisin. Asam amino essensial ini tidak bisa disintesis sendiri oleh tubuh manusia sehingga harus didapatkan dari luar seperti makanan dan zat nutrisi lainnya (Rismaka 2009).
Tujuan
Percobaan ini bertujuan memahami sifat dan stuktur asam amino dan protein melalui uji-uji kualitatif serta mempelajari beberapa reaksi uji terhadap asam amino dan protein.
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan ialah penangas air, tabung reaksi, pipet tetes, pipet mohr 10 mL, bulb merah dan hitam, kertas saring, corong, gelas piala 100mL dan 250 mL, pembakar Bunsen, korek api, kaki tiga, gegep kayu, kertas saring, tisu, botol semprot dan kasa asbes.
            Bahan yang digunakan ialah albumin 2% dan 0.02%, gelatin 2% dan 0.02%, kasein 2% dan 0.02%, pepton 2% dan 0.02%, fenol 2% dan 0.02%, pereaksi millon, pereaksi biuret, pereksi ninhidrin, NaOH 10% dan pekat, Pb-asetat 5%, HNO3 pekat, CuSO4 0.1%, aquades, HgCl2 2%, AgNO3 5%, HCl 0.1 M, NaOH 0.1 M, buffer asetat pH 4.7, kristal ammonium sulfat dan etanol 95%.
Prosedur Kerja
            Pada uji Millon, sebanyak 5 tetes pereaksi Millon ditambahkan ke dalam 3 mL larutan albumin 2%. Campuran selanjutnya dipanaskan di dalam penangas air selama 5 menit. Hal yang sama juga dilakukan terhadap larutan gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.
Pada uji Ninhidrin sebanyak 0.5 mL larutan ninhidrin 0.1% ditambahkan ke dalam 3 mL larutan albumin 2%, lalu dipanaskan selama 15 menit, perubahan warna yang terjadi diamati. Uji dilakukan terhadap larutan gelatin 2%, kasein 2%, fenol 2% , dan pepton 2%.
Pada uji Belerang, sebanyak 2 mL larutan albumin 0.02% ditambah 5 mL NaOH 10%, dan dipanaskan selama 10 menit. Kemudian ditambah 2 tetes larutan Pb-asetat 5%, pemanasan dilanjutkan beberapa menit, diamati warna yang terjadi. Uji dilakukan terhadap larutan gelatin 2%, kasein 2%, fenol 2%, dan pepton 2%.
Pada uji Xantoproteat, sebanyak 2 mL larutan albumin 2% ditambahkan 1 mL HNO3 pekat, dicampur, kemudian dipanaskan, diamati timbulnya warna kuning tua. Tabung reaksi kemudian didinginkan, ditambahkan tetes demi tetes larutan NaOH pekat sampai larutan menjadi basa. Perubahan yang terjadi diamati. Uji yang sama dilakukan terhadap larutan gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.
Pada uji Biuret, sebanyak 3 mL larutan albumin 2% ditambah 1 mL NaOH 10% dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dikocok. Sebanyak 1-3 tetes larutan CuSO4 0.1% ditambahkan dalam larutan protein tersebut. Perubahan warna yang terjadi diamati. Uji yang dilakukan terhadap larutan gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.
Pada pengendapan protein oleh logam, sebanyak 3 ml albumin ditambahkan dengan 5 tetes larutan HgCl2 2%, percobaan diulangi dengan larutan Pb-asetat 5%, dan AgNO3 5%.
Pengendapaan oleh garam, sebanyak 10 ml larutan protein dijenuhkan dengan kristal amonium sulfat atau (NH4)2SO4 yang ditambahkan sedikit demi sedikit, kemudian diaduk hingga mencapai titik jenuh dan disaring. Lalu diuji kelarutannnya dengan ditambahkan air, untuk endapan diuji dengan pereaksi Millon dan filtrat dengan pereaksi Biuret.
Pada uji Koagulasi sebanyak 2 tetes asam asetat 1 M ditambahkan ke dalam tabung yang berisi 5 ml larutan albumin, kemudian tabung tersebut diletakkan dalam air mendidih selama 5 menit. Endapan diambil dengan batang pengaduk dan dibagi menjadi dua, untuk endapan pertama diuji kelarutannya dengan air , sementara endapan kedua dengan pereaksi Millon.
Pengendapan oleh alkohol, sebanyak 4 tabung reaksi disiapkan dan tabung pertama diisi campuran sebagai berikut ; 5 ml larutan albumin, 6 ml etanol 95 %l dan 1 ml HCl 0,1 M. Pada tabung kedua dimasukkan 5 ml larutan albumin, 6 ml etanol 95% dan 1 ml NaOH 0,1 M. Ke dalam tabung ketiga 5 ml larutan albumin, 1 ml buffer asetat ph 4,7 ,dan 6 ml etanol 95% dan untuk tabung terakhir diisi dengan 2,5 ml larutan albumin dan 3 ml etanol 95%.
Pada percobaan denaturasi protein siapkan 3 tabung reaksi, tabung reaksi pertama diisi 4,5 ml larutan albumin dan 0,5 ml HCl 0,1 M, tabung reaksi kedua 4,5 ml larutan albumin dan 0,5 ml NaOH 0,1 M dan kedalam tabung reaksi ketiga ditambahkan 4,5 ml albumin dan 0,5 ml buffer asetat pH 4,7,tabung 4 diisi dengan 4,5 ml albumin sebagai blanko.
Data Pengamatan
Tabel 1 Hasil Uji Millon
Bahan Uji
HasilPengamatan
Perubahan Warna Larutan
Albumin
-
Kuning muda
Gelatin
-
Kuning muda
Kasein
-
Tak berwarna
Pepton
-
Jingga
Fenol
-
Tak berwarna
Keterangan : (+) = terdapat tirosin
                      (-) = tidak terdapat tirosin

                                   

                                         1      2       3         4        5
                                   

Gambar 1 Albumin hasil uji Millon
Keterangan   :  1 = Albumin    4 = Pepton
                        2 = Gelatin      5 = Fenol
3 = Kasein
Tabel 2 Hasil Uji Ninhidrin
Bahan Uji
HasilPengamatan
Perubahan Warna Larutan
Albumin
+
Biiru tua
Gelatin
+
Ungu kebiruan
Kasein
+
Kuning(mengandung prolin)
Pepton
+
Ungu kebiruan
Fenol
-
Tak berwarna
Keterangan : (+) = dalam sampel terdapat protein
                      (-) = dalam sampel tidak terdapat protein


                                          
                                            1          2        3         4        5

Gambar 1 Albumin hasil uji Ninhidrin

Keterangan   :  1 = Albumin    4 = Pepton
                        2 = Gelatin      5 = Fenol
3 = Kasein
Tabel 3 Hasil Uji Belerang
Bahan Uji
HasilPengamatan
Perubahan Warna Larutan
Albumin
-
Tidak berwarna
Gelatin
-
Tidak berwarna
Kasein
+
Kuning
Pepton
-
Kuning
Fenol
-
Tidak berwarna
Keterangan : (+) = dapat membentuk garam PbS
                      (-) = tidak dapat membentuk garam PbS
                                              
                                               1         2        3       4        5


Gambar 3 Albumin hasil uji belerang
Keterangan   :  1 = Albumin                4 = Pepton      
                        2 = Gelatin                  5 = Fenol
                        3 = Kasein      
                       
Table 4 Hasil Uji Xantoproteat
Bahan Uji
HasilPengamatan
Perubahan Warna Larutan
Albumin
+
Oranye
Gelatin
+
Oranye ke kuningan
Kasein
+
Kuning muda
Pepton
+
Oranye
Fenol
+
oranye
Keterangan : (+) = mengandung inti benzena
          (-) = tidak mengandung inti benzena

                                       
      1          2         3         4         5

Gambar 3 Albumin hasil uji Xantoproteat


Keterangan   :  1 = Albumin    4 = Pepton
                        2 = Gelatin      5= Fenol
                        3 = Kasein      
Tabel 4 Hasil Uji Biuret
Bahan Uji
HasilPengamatan
Perubahan Warna Larutan
Albumin
+
Sedikit berwarna ungu
Gelatin
+
Ungu seulas
Kasein
+
Ungu seulas
Pepton
+
Ungu seulas
Fenol
-
Tidak berwarna
Keterangan : (+) = Dalam sampel terdapat ikatan peptida
                      (-) = Dalam sampel tidak terdapat ikatan peptide

            1         2       3        4        5


Gambar 4 Albumin hasil uji Biuret
Keterangan   :  1 = Albumin                4 = Pepton
                        2 = Gelatin                  5 = Fenol
                        3 = Kasein

Table 5 Hasil Uji Pengendapan Albumin Oleh Logam Berat
Logam Berat
HasilPengamatan
Perubahan Warna Larutan
HgCl2
+
Larutan keruh, putih
Pb-asetat
++
Larutan keruh, putih
AgNO3
+++
Larutan keruh, putih
Keterangan : (+)      = Protein sedikit terendapkan oleh logam
                      (++)   = Protein sebagian terendapkan oleh logam
         (+++) = Protein banyak terendapkan oleh logam
                                   

                                                   1           2           3

Gambar 5 hasil uji pengendapan albumin oleh logam berat
Keterangan:     1 = Ag            2 = Pb             3 = Hg
Table 6 Tabel Hasil Uji Pengendapan Albumin Oleh (NH4)2SO4
Uji
Hasil Pengamatan
Perubahan Warna/ Kelarutan
Uji kelarutan
+
Larut dalam air
Uji Millon
+
Kuning
Uji Biuret
+
Biru ungu seulas
Keterangan: (+) = mengandung garam anorganik dengan persentasi tinggi
                     (-) = tidak mengandung garam anorganik dengan persentasi tinggi



                                                         1              2             3

Gambar 6 hasil uji kelarutan pada pengendapan albumin oleh garam
Keterangan:     1 = + Air         2 = + Pereaksi Millon              3 = +Pereaksi Biuret
Tabel 7 Hasil Uji Pengaruh Pemanasan Terhadap Albumin
Uji
HasilPengamatan
Perubahan Warna/ Kelarutan
Uji Kelarutan
-
Ungu, larut
Uji Biuret
-
Ungu, larut
Keterangan:     (+) = terdapat endapan
                        (-) = tidak terdapat endapan
                                               
Gambar 7 hasil uji kelarutan   Gambar 8 hasil uji Biuret pada
 pada uji koagulasi albumin            uji koagulasi albumin

Table 8 Hasil Uji Pengendapan Albumin oleh Alkohol
Tabung
HasilPengamatan
Perubahan Warna Larutan
1 HCl
++
Keruh
2 NaOH
-
Tidak berwarna
3 Buffer asetet pH 4,7
++
Keruh
4 Etanol 95%
+++
Keruh, putih
Keterangan : (-)        = Tidak ada endapan
                      (++)     = Endapan cukup banyak
                      (+++)   = Endapan banyak
                      (++++) = Endapan sangat banyak



                                                  1        2         3                     4

Gambar 8 hasil uji pengendapan albumin aleh alkohol
Keterangan:     1 = albumin + HCl dan etanol
                        2 = albumin + NaOH dan etanol
                        3 =  albumin + Buffer Asetat 4.7 dan etanol
                        4 = albumin + etanol

Tabel 9 Hasil Uji Denaturasi albumin
Tabung
Hasil Pengamatan sebelum penambahan Buffer asetat
Hasil Pengamatan Setelah Penambahan Buffer Asetat
Intensitas endapan
1 HCl
- (tidak berwarna)
+,larutan keruh, putih
+++
2 NaOH
-(tidak berwarna)
+,larutan keruh, putih
+
3 Buffer Asetat
+(keruh)
+,larutan keruh, putih
++++
4 albumin
-(tidak berwarna)
+,larutan keruh, putih
++
Keterangan : (-)      = Tidak ada endapan
                      (+)     = Endapan sedikit
                      (++)   = Endapan cukup banyak
                      (+++) = Endapan banyak



                                             1             2          3            4

Gambar 9 albumin hasil denaturasi protein

Keterangan: 1 = albumin + HCl
                     2 = albumin + NaOH
                     3 = albumin + Buffer Asetat pH 4.7
                     4 = albumin
Pembahasan
Keistimewaan dari protein adalah strukturnya yang mengandung N,disamping C,H,O (seperti karbohidrat dan lemak), S dan kadang-kadang P,Fe dan Cu (sebagai senyawa kompleks dengan protein). Dengan demikian maka salah satu cara terpenting yang cukup spesifik untuk menentukan jumlah protein secara kuantitatif adalah dengan penentuan kandungan N yang ada dalam bahan makanan atau bahan lain. Molekul protein sendiri merupakan rantai panjang yang tersusun oleh matarantai asam-asam amino. Asam amino adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus karboksil (-COOH) dan satu atau lebih gugus amino (-NH2) yang salah satunya terletak pada atom C (Hamdan 2007).
Albumin merupakan protein terpenting yang disintesis oleh hati dan hati adalah satu-satunya tempat sintesis protein. Albumin merupakan unsur utama yang terdapat pada putih telur. Albumin mempunyai berat molekul tinggi (66000) dan mengandung 584 asam amino. Produksi albumin yang normal dalam rentang 120-200 mg per kg per hari (Sabiston 1987).
Gelatin ialah protein hewani yag tidak lengkap, diambil dari jaringa hewani, seperti tulang dan jaringan ligament. Dapat dijumpai dalam beberapa sari daging dan dalam beberapa kaldu. Juga didapati dalam sayuran tertentu, sebuah contoh ialah agar-agar yang digunakan dalam pembuatan jeli dan kaldu (Pearce 2009).
Kasein merupakan senyawa fosfo-gliko protein berbentuk misela (diameter 0,1 mikro), berikatan dengan kalsium fosfat dan sitrat yang meliputi 75% protein dalam susu sapi.Kasein alami terdiri atas protein 94%, kalsium (Ca) 35%, fosfor (P) 2,2%, asam sitrat (0,5%) dan magnesium (Mg 0,1%). Kasein mengandung lysine, kekurangan sistin (0,4%), tetapi kaya akan metionin (kira-kira 3%) dan dapat dihidrolisis menjadi oligopeptida yang larut dan mudah dicerna (Djarir 2002).
Fenol merupakan senyawa aromatic dengan satu atau beberapa gugus hidroksil yang terikat secara langsung pada cincin benzene. Senyawa tersebut mudah mengalami oksidasi. Senyawa fenol terdiri atas fenol (C6H5OH), kresol, xylenol, klorfenol, katekol, hidroquinon, timol, naftol, dan sebagainya. Senyawa fenol dihasilkan dari proses pemurnian minyak, industry kimia, tekstil, plastic, dan lain-lain (Effendi 2003).
Protein derivat merupakan hasil pemecahan protein alam sebelum menjadi asam alfa amino. Pemecahan protein umumnya melalui hidrolisis. Hidrolisis berat diperoleh protein derivate sekunder, salah satunya ialah pepton. Struktur kimia pepton jauh lebih sederhana daripada proteosa. Pepton ikut larut dalam air dan tak menggumpal apabila dipanaskan (Sumardjo 2006).
Uji millon berfungsi untuk mengetahui adanya gugus phenol dalam protein. Pereaksi Millon terdiri dari merkuri nitrit (HgNO2) dan merkuri nitrat (Hg(NO3)2). Protein yang mengandung gugus hidroksil Phenil (-OH) dapat bereaksi dengan larutan mercuri nitrat dapat menghasilkan larutan atau endapan berwarna putih kemudian berubah warna menjadi merah setelah dipanaskan (Sutresna 2008).
Prinsip dari uji millon adalah pembentukan garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi. Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri dengan pereaksi millon. Dari hasil percobaan diketahui bahwa albumin, gelatin, kasein, dan fenol tidak mengandung tirosin, sedangkan pepton mengandung tirosin. Seharusnya fenol, albumin, dan kasein positif dalam uji millon karena tirosin memiliki molekul fenol pada gugus R-nya dan albumin serta kasein mengandung tirosin sebagai salah satu asam penyusunnya, namun pada percobaan tersebut tidak dihasilkan hasil positif. Penyimpangan tersebut terjadi karena kesalahan kerja pada praktikan, bahan yang telah terkontaminasi (Handini 2009).
Protein yang mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan gugus asam amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk persenyawaan berwarna. Uji tersebut bersifat umum untuk semua asam amino dan menjadi dasar penentuan kualitatif asam amino. Uji ninhidrin akan positif jika senyawa tersebut mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan asam amino bebas atau alfa asam amino maupun gugus hidroksil. Uji yang positif akan ditandai dengan terbentuknya warna biru ungu dan untuk prolin,hidroksiprolin berwarnakuning. Berdasarkan hasil percobaan, hasil positif ditunjukkan oleh albumin, gelatin, kasein, pepton. Pada percobaan albumin, gelatin, dan pepton membentuk warna biru ungu karena dapat bereaksi dengan Ninhidrin. Hal ini menandakan ketiga zat uji tersebut mempunyai gugus asam amino bebas. Semakin banyak ninhidrin pada zat uji yang dapat bereaksi, semakin pekat warnanya. Hal ini  juga mendasari bahwa uji Ninhidrin dapat digunakan untuk menentukan asam amino secara kuantitatif dan fenol menunjukkan hasil yang negatif serta kasein menunjukkan hasil yang positif dengan membentuk warna kuning Karena kasein mengandung gugus prolin atau hidroksiprolin.
 Ninhydrin merupakan oksidator yang menyebabkan dekarboksilasi oksidatif dari asam amino yang menghasilkan CO2, NH3, dan aldehid yang rantainya lebih pendek 1 C dari asam amino asalnya. Ninhydrin yang tereduksi akan bereaksi dengan NH3 sehingga membentuk senyawa kompleks berwarna biru dengan absorpsi warna maksimum pada panjang gelombang 570 nm (Hamdan 2007).
Uji belerang dilakukan untuk mengetahui apakah di dalam bahan-bahan yang diujikan terdapat asam amino sistein atau metionin atau tidak. Sistein dan metionin merupakan asam amino yang mengandung S pada molekulnya. Reaksi Pb-asetat dengan asam amino tersebut akan membentuk endapan berwarna hitam atau kelabu. Penambahan NaOH dalam percobaan tersebut ialah untuk mendenaturasi protein sehingga ikatan yang menghubungkan atom S dapat terputus oleh Pb-asetat dan membentuk garam PbS. Berdasarkan hasil percobaan albumin dan kasein yang berwarna gelap atau kuning gelap, sehingga kasein dan albumin megandung metionin atau sistein. Reaksi yang terjadi ialah
SH-CH2-CH(NH3)+-COO- + NaOH                Na2S
Na2S + Pb(CH3COO)2                  PbS (hitam) (Handini 2009).
            Uji Xantoproteat digunakan untuk mengetahui adanya inti benzene dalam dalam molekul-molekul asam aminonya. Inti benzene dapat ternitrasi oleh asam pekat menghasilkan turunan nitrobenzene. Fenilalanin, triptofan, dan tirosin yang mengandung inti benzene pada molekulnya juga mengalami reaksi denga HNO3 pekat, Albumin, kasein, gelatin, pepton dan fenol seluruhnya menunjukkan hasil yang positif karena semua bahan mengandung inti benzene pada molekulnya (Handini 2009). Berikut contoh struktur bangun protein yang berinti benzena :
 

—CH2CHCO2OH
                                                                 NH2
Feinilanalina
Uji Biuret semua protein yang diujikan memberikan hasil positif. Biuret bereaksi membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus -CO dan -NH pada asam amino dalam protein. Fenol tidak bereaksi dengan biuret karena tidak mempunyai gugus -CO dan -NH pada molekulnya. Dalam suasana basa, Cu bereaksi dengan beberapa jenis protein dan menghasilkan senyawa kompleks, reaksi biuret dapat terjadi pada molekul yang mengandung dua gugus
 yang terikat pada 1 atom karbon / atom nitrogen / terikat langsung. Senyawa yang
mengandung gugus                        diganti dengan gugus        
atau gugus -CH2NH2  juga positif dalam uji biuret. Uji test ini diberikan nama berdasarkan nama senyawa biuret .          
, yang memberikan uji positif. Uji Biuret merupakan uji karateristik dari protein.
Protein yang tercampur oleh senyawa logam berat akan terdenaturasi. Hal ini terjadi pada albumin yang terkoagulasi setelah ditambahkan AgNO3, HgCl2, dan Pb-asetat. Senyawa-senyawa logam tersebut akan memutuskan jembatan garam dan berikatan dengan protein membentuk endapan logam proteinat. Protein juga mengendap bila terdapat garam-garam anorganik dengan konsentrasi yang tinggi dalam larutan protein. Berbeda dengan logam berat, garam-garam anorganik mengendapkan protein karena kemampuan ion garam terhidrasi sehingga berkompetisi dengan protein untuk mengikat air. Pada percobaan, endapan yang diperoleh dari hasil penyaringan dapat larut kembali dalam air dan filtrat yang direaksikan dengan biuret berwarna biru muda. Hal ini berarti protein yang mengendap secara reversible atau dapat balik jika ditambahkan garam.
Protein juga dapat mengendap bila terdapat garam anorganik dengan konsentrasi yang tinggi  dalam larutan protein. Berbeda dengan logam berat, garam-garam anorganik mengendapkan protein karena kemampuan ion garam terhidrasi sehingga berkompetisi dengan protein untuk mengikat air. Berdasarkan hasil percobaan, albumin larut  dalam air, endapan yang direaksikan dengan pereaksi Millon menghasilkan warna kuning, dan  filtrate yang diujikan dengan biuret berwarna biru ungu. Hal tersebut menandakan terdapat sebagian protein yang mengendap setelah ditambahkan garam (Handini 2009).
Albumin yang dipanaskan dan ditambahkan asam asetat pada uji koagulasi tidak menghasilkan endapan apapun, begitu pula  tanpa penambahan asam asetat juga tidak menghasilkan endapan. Setelah keduanya direaksikan dengan biuret, maka menghasilkan warna ungu, akibat pembentukan senyawa kompleks Cu2+ gugus –CO dan –NH dari rantai peptide dalam suasana basa.
Hanya tabung-tabung yang ber-pH rendah atau mengandung asam yang  menunjukkan pengendapan protein pada uji pengendapan protein oleh alkohol. Tabung 2 yaitu penambahan dengan NaOH 0,1 M, tidak menghasilkan endapan atau kekeruhan karena sifatnya adalah basa. Tabung yang paling banyak mengandung endapan seharusnya ialah tabung 3 karena sudah langsung penambahan dengan buffer asetat pH 4,7 , bukan pada tabung 4. Kesalahan yang mungkin terjadi ialah pengamatan dari mata praktikan yang sulit membedakan banyaknya kekeruhan. Sebelumnya tabung 1, 2, dan 4 belum ditambahkan buffer asetat pH 4,7 menunjukkan kekeruhan yang kecil, setelah ditambahkan buffer asetat kekeruhannya semakin banyak yang mengindikasi adanya endapan. Sehingga penambahan buffer asetat sangat berpengaruh pada semakin asamnya pH dan semakin banyaknya pengendapan. Seluruh tabung menghasilkan endapan, hal tersebut dikarenakan ujung C asam amino yang terbuka dapat bereaksi dengan alkohol dalam suasana asam membentuk senyawa protein ester. Pembentukan ester tersebut ditunjukkan dengan adanya endapan yang terbentuk (Handini 2009).
Protein yang dipengaruhi oleh pemanasan, sinar ultra violet, gelombang ultrasonic, pengocokan yang kuat, atau bahan-bahan kimia tertentu dapat mengalami proses denaturasi. Denaturasi protein ialah suatu proses perubahan konfigurasi tiga dimensi molekul protein tanpa menyebabkan kerusakan ikatan peptide (Sumardjo 2006).
Protein akan terdenaturasi atau mengendap apabila berada pada titik isolistriknya, yaitu PH dimana muatan positif sama dengan jumlah muatan negatifnya. Protein yang ditambahkan buffer asetat ph 4,7 menghasilkan endapan. Protein yang dilarutkan dengan HCl dan NaOH tidak menghasilkan endapan dan tidak berwarna, namun setelah ditambahkan buffer asetat seluruhnya terbentuk endapan dan berwarna keruh. Tabung yang paling banyak kekeruhannya ialah tabung 3 karena telah langsung ditambahkan buffer asetat. Hal tersebut menunjukkan bahwa protein albumin mengendap pada titik isolistriknya yaitu sekitar PH 4,7 (Handini 2009)
Simpulan
Berdasarkan data dan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa uji millon menunjukkan hasil positif pada pepton. Uji ninhidrin menunjukkan hasil positif pada albumin, gelatin, kasein, dan pepton. Uji belerang positif terhadap albumin dan kasein. Uji xantoproteat positif terhadap albumin, gelatin, kasein, pepton, dan fenol. Uji biuret positif terhadap albumin, gelatin, kasein, dan pepton. Pengendapan oleh logam dan pengendapan oleh garam positif terhadap albumin. Uji koagulasi negative seluruhnya terhadap albumin. Pengendapan oleh alcohol tidak menghasilkan endapan pada penambahan NaOH. Denaturasi protein positif seluruhnya terhadap albumin atau membentuk endapan.
Daftar Pustaka
James Joyce. 2002. Prinsip-Prinsip Sains Untuk Keperawatan. Retno Indah, penerjemah. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari : Principles of Science for Nurses (Halaman : 66)
Sudjadi Bagod. 2006. Biologi Sains Dalam Kehidupan. Jakarta : Yudhistira Ghalia Indonesia (Halaman : 16)
Sunarso. 2002. Manajemen Pakan. [terhubung berkala]. nutrisi.awardspace.com/download/MANAJEMEN%20PAKAN.pdf [24 September 2011, 18:31]
Hamdan Ali. 2007. Buku Biokimia Laboratorium Dasar Universitas Trunojoyo, [terhubung berkala] http://labdasar.trunojoyo.ac.id/buku%20biokimia.pdf [24 September 2011, 18:43]
Sabiston David. 1987. Buku Ajar Bedah Bagian 2. Andrianto Petrus, penerjemah.  Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Terjemahan Dari : Essentials of Surgery (halaman : 73)
Sutresna Nana. 2008. Get Succes Kimia. Jakarta : Grafindo Media Pratama (Halaman : 174)
Pearce Evelyn. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Yuliani Sri, penerjemah. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Terjemahan dari : Anatomy and Physiology for Nurses (halaman : 200)
Makfoeld Djarir. 2002. Kamus Istilah Pangan dan Nutrisi. Yogyakarta : Penerbit Kanisius (halaman : 169)
Effendi Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengolahan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius (halaman : 207)
Sumardjo Damin. 2006. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran. Jakarta : Penerbit Buku Kedoktern EGC (halaman : 180)
Handini. 2009. Karbohidrat Pada Uji Kualitatif. [terhubung berkala] http://www.rismaka.net/2009/06/uji-kualitatif-protein-dan-asam-amino.html. [1 Oktober 2011,02:40]




            

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar