Rabu, 04 Januari 2012

Laporan Praktikum Biokimia : Karbohidrat

Pendahuluan
Biomolekul karbohidrat merupakan golongan utama bahan organik, dan ditemukan pada semua bagian sel, terutama pada sel tumbuhan. Sel tumbuhan paling banyak mengandung karbohidrat, 50-80% bobot kering sel yaitu karbohidrat selulosa. Karbohidrat juga merupakan komponen gizi utama bahan makanan yang berenergi lebih tinggi dari biomolekul lain. Satu makromolekul karbohidrat adalah satu polimer alam yang dibangun oleh monomer polisakarida. Kedudukan karbohidrat sangatlah penting pada manusia dan hewan tingkat tinggi lainnya, yaitu sebagai sumber kalori. Karbohidrat juga mempunyai fungsi biologi lainnya yang tak kalah penting bagi beberapa makhluk hidup tingkat rendah, ragi misalnya mengubah karbohirat (glukosa) menjadi alkohol dan karbondioksida untuk menghasilkan energi. (Hawab 2004).
Karbohidrat sebenarnya merupakan nama umum senyawa-senyawa kimiawi berupa bentuk hidrat dari karbon dan secara empiris mempunyai rumus umum (CH2O)n. Salah satu perbedaan utama antara berbagai tipe karbohidrat ialah ukuran molekulnya, diantaranya monosakarida, disakarida, oligosakarida dan polisakarida. Berdasarkan sifat-sifatnya terhadap zat-zat penghidrolisa karbohidrat dibagi dalam 4 kelompok utama :
1.      Monosakarida
Karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisa menjadi senyawa yang lebih sederhana terdiri dari satu gugus cincin. Contoh dari monosakarida yang terdapat di dalam tubuh ialah glukosa, fruktosa, dan galaktosa.
2.      Disakarida
Senyawa yang terbentuk dari gabungan 2 molekul atau lebih monosakarida. Contoh disakarida ialah sukrosa, maltosa dan laktosa.
3.      Glikosida
Senyawa yang terdiri dari gabungan molekul gula dan molekul non gula.
4.      Polisakarida
Semua jenis karbohidrat baik mono, di maupun polisakarida akan berwarna merah. Apabila larutannya (dalam air) dicampur dengan beberapa tetes larutan alpha naphtol dan kemudian dialirkan pada asam sulfat pekat dengan hati-hati sehingga tidak tercampur (Fessenden  1986).

Warna merah akan tampak pada bidang batas antara campuran karbohidrat dengan α naphtol dan asam sulfat pekat. Sifat ini dipakai sebagai dasar uji kualitatif adanya karbohidrat dan dikenal sebagai uji Molish (Fessenden  1986).

Tujuan
Tujuan praktikum adalah menunjukkan sifat dan struktur karbohidrat melalui uji-uji kualitatif, mengamati struktur beberapa karbohidrat melalui sifat reaksinya dengan beberapa reagen uji yaitu uji Molisch, Benedict, Barfoed, fermentasi, Selliwanoff, dan Iod.

Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ialah penangas air, tabung fermentasi, pipet mohr 10 ml, pipet tetes, bulb, gegep kayu, tabung reaksi, rak tabung reaksi, mortar, pembakar bunsen, kaki tiga, kasa, gelas piala 250 ml dan papan uji.
Bahan-bahan yang digunakan ialah glukosa 1%, fruktosa 1%, sukrosa 1%,laktosa 1%, maltose 1%, pati 1%, pereaksi Molisch, asam sulfat pekat, pereaksi benedict, pereaksi barfoed, fosfomolibdat, ragi, NaOH, kapas, akuades, pereaksi selliwanoff, larutan iod encer, gum Arab, tepung pati, tepung agar-agar, dan arabinosa.

Prosedur Percobaan
            Pada Uji Molish dengan prosedur sebagai berikut, sebanyak 5 ml sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan 2 tetes pereaksi Molisch, dicampur merata, kemudian asam sulfat pekat ditambahkan perlahan-lahan  ke dinding tabung sebanyak 3 ml. Reaksi positif ditunjukkan dengan adanya warna  violet(ungu) kemerahan pada batas kedua cairan. Percobaan dilakukan 6 kali dengan sampel yang berbeda beda, sampelnya antara lain glukosa 1%,fruktosa 1%, sukrosa  1%, laktosa 1%, maltosa 1%, dan pati 1 %.
Uji Benedict  dilakukan dengan cara sebanyak 5 ml Pereaksi benedict  dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian sampel ditambahkan sebanyak 8 tetes dan didihkan selama 5 menit, selanjutnya dibiarkan sampai menjadi dingin.  Tidak terdapatnya gula pereduksi  pada sampel ditunjukkan dengan larutan berwarna biru. Warna hijau kebiruan, hijau,  dan kuning diindikasikan terdapatnya gula dengan konsentrasi sekitar 250, 500, dan 1000 mg/Dl. Sedangkan  konsentrasi gula sekitar 2000 mg/dl ditunjukkan dengan endapan merah. Sampel yang digunakan antar lain glukosa 1%,fruktosa 1%, sukrosa  1%, laktosa 1%, maltosa 1%, dan pati 1 %.
Pada uji Barfoed sebanyak 1 ml pereaksi Barfoed dan sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian dipanaskan dalam penangas air selama 3 menit selanjutnya didinginkan.  Fosfomolibdat dimasukkan ke dalam larutan sebanyak 1 ml selanjutnya dikocok dan diamati warna yang terjadi. Percobaan dilakukan 6 kali dengan sampel yang berbeda beda, sampelnya antara lain glukosa 1%,fruktosa 1%, sukrosa  1%, laktosa 1%, maltosa 1%, dan pati 1 %.
            Pada uji  Fermentasi  sebanyak 20 ml sampel dan ragi sebanyak 2 gram dimasukkan ke dalam mortar kemudian digerus kedua bahan tersebut sampai terbentuk suspensi yang homogen kemudian  suspensi tersebut dimasukkan ke dalam tabung fermentasi  sampai bagian kaki tertutup terisi penuh oleh cairan selanjutnya dilakukan pemeraman pada suhu 36oC dan diperiksa setiap selang waktu  2, 4, 5 menit. Jika terdapat ruangan gas pada kaki tabung yang tertutup diukur panjang atau isi gas tersebut. Pembuktian  bahwa terdapat  gas CO2, dilakukan dengan cara larutan ditambahkan NaOH 10% ke dalam tabung fermentasi  melalui  kaki yang terbuka dan ditutup mulut tabung dengan ibu jari sambil tabung di boalk-balik beberapa kali, adanya gas CO2 ditunjukkan dengan adanya isapan pada ibu jari. Uji ini dilakukan terhadap larutan glukosa 1%,fruktosa 1%, sukrosa  1%, laktosa 1%, maltosa 1%, dan pati 1 %.
            Pada uji Selliwanoff sebanyak 5 ml pereaksi Selliwanoff dan beberapa tetes sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian didihkan campuran tersebut selama 1-2 menit. Uji ini dilakukan terhadap larutan glukosa 1%,fruktosa 1%, sukrosa  1%, laktosa 1%, maltosa 1%, dan pati 1 %.
            Pada uji Iod seujung sudip sampel dimasukkan ke dalam papan tetes kemudian ditambahkan satu tetes larutan iod encer dan dicampurkan dengan rata serta diperhatikan warna yang terjadi. Sampel yang digunakan yaitu tepung pati, tepung gum arab dan tepung agar-agar serta arabinosa.
Data Pengamatan
Tabel 1 Hasil Uji Molisch
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Perubahan warna larutan
Glukosa
+
Cincin coklat keunguan
Fruktosa
+
Cincin ungu kecoklatan
Sukrosa
+
Cincin coklat keunguan
Laktosa
+
Cincin ungu kecoklatan
Maltosa
+
Cincin coklat keunguan
Pati
+
Cincin ungu kecoklatan
Keterangan: + : sampel mengandung karbohidrat
-          : sampel tidak mengandung karbohidrat

                                                
         Gambar  1                                              Gambar 2                                 Gambar 3
Glukosa - Uji Molisch              Fruktosa - Uji Molisch                 Sukrosa -Uji Molisch

                                          
         Gambar 4                                            Gambar 5                                   Gambar 6
Laktosa -  Uji Molisch             Maltosa - Uji Molisch                    Pati - Uji Molisch

Tabel 2 Hasil Uji Benedict
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Perubahan warna larutan
Glukosa
+
berwarna merah bata
Fruktosa
+
berwarna merah bata
Sukrosa
-
Biru
Laktosa
+
berwarna merah bata
Maltosa
+
berwarna merah bata
Pati
-
Biru
Keterangan: + : sampel mengandung gula pereduksi
-          : sampel tidak mengandung gula pereduksi

                                   
           Gambar 1                                  Gambar 2                        Gambar 3
Glukosa - Uji Benedict                      Fruktosa - Uji Benedict            Sukrosa - Uji Benedict
                                         
            Gambar 4                                 Gambar 5                                  Gambar 6
Laktosa - Uji Benedict             Maltosa -  Uji Benedict                            Pati - Uji Benedict

Tabel 3 Hasil Uji Barfoed
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Perubahan warna larutan
Glukosa
+
merah bata dan terdapat cincin kuning biru muda
Fruktosa
+
merah bata, larutan biru pekat
Sukrosa
+
merah bata, larutan biru keruh
Laktosa
-
Biru keruh
Maltosa
-
Biru keruh
Pati
-
Biru → biru muda
Keterangan: + : sampel mengandung monosakarida
-          sampel tidak mengandung monosakarida

                                           
     Gambar 1                                    Gambar 2                                 Gambar 3
Glukosa - Uji Barfoed             Fruktosa - Uji Barfoed             Sukrosa - Uji Barfoed
                                                    
         Gambar 4                                               Gambar 5                                       Gambar 6
Laktosa - Uji Barfoed                 Maltosa - Uji Barfoed                                  Pati - Uji Barfoed

Tabel 4 Hasil Uji Fermentasi
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Tinggi gas CO2 (cm)
Daya hisap
Glukosa
+
2’= 7.8 cm
4’= 8.5 cm
5’= 9.3 cm

++
Fruktosa
+
2’= 5    cm
3’= 7    cm
5’= 8.5 cm

+++
Sukrosa
+
2’= 3.5 cm
4’= 8.2 cm
5’= 8.5cm

++
Laktosa
+
2’=0.3 cm
4’=0.5 cm
6’=0.7 cm

+
Maltosa
+
2’=0.8 cm
4’=0.9 cm
5’=1.2 cm

+
Pati
-
0
-

Keterangan pada hasil pengamatan: (+) = terdapat gas CO2
                                                                            (-) = tidak terdapat gas CO2
Keterangan pada daya hisap         :    + = daya hisap lemah
                                                         ++ = daya hisap kuat
                                                      +++ = daya hisap sangat kuat        
                                                          
       Gambar 1.                                                 Gambar 2.                                Gambar 3.
Glukosa – Uji Fermentasi         Fruktosa – Uji Fermentasi           Sukrosa – Uji Fermentasi

                                                               
        Gambar 4.                                               Gambar 5.                                 Gambar 6.
Laktosa – Uji Fermentasi         Maltosa – Uji Fermentasi            Pati – Uji Fermentasi

Tabel 5 Hasil Uji Selliwanoff
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Perubahan warna larutan
Glukosa
-
Tb – Tb
Fruktosa
+
Tb – Merah
Sukrosa
+
Tb – Merah Muda
Laktosa
-
Tb – Tb
Maltosa
-
Tb – Tb
Pati
-
Tb – Tb






                                             


                                             




                                              A     B      C     D     E     F


Keterangan: A = glukosa
                    B = fruktosa
                    C = sukrosa
                    D = laktosa
                    E = maltosa
                    F = pati

Tabel 6 Hasil Uji Iod
Bahan Uji
Hasil Pengamatan (+/-)
Perubahan warna larutan
Tepung pati
+
Putih – ungu pekat
Tepung agar-agar
+
Putih – ungu kemerahan
Tepung arabinosa
-
Putih – kuning
Tepung gum arab
-
Putih – kuning




                                    A                B                  C                 D
Keterangan :
A = Tepung pati
B = Tepung Agar-agar
C = Tepung Arabinosa
D = Tepung Gum Arab

Pembahasan
Karbohidrat umumnya sering disebut dengan sakarida. Polisakarida terdiri dari banyak polimer sakarida,seperti amilum, pati, dan selulosa. Disakarida terdiri dari dua sakarida, seperti sukrosa dan laktosa. Monosakarida ialah monomer sakarida, seperti glukosa, galaktosa, dan fruktosa (Yatim 2003).
Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa karena terdiri atas 6 rantai atau cincin karbon. Atom-atom hidrogen dan oksigen terikat pada rantai atau cincin tersebut secara terpisah atau sebagai gugus hidroksil (OH-). Terdapat tiga jenis heksosa yang penting yaitu glukosa, fruktosa, dan galaktosa (Almatsier 2001).
Glukosa dinamakan juga dekstrosa atau gula anggur dan terdapat di alam dalam jumlah yang sedikit yaitu dalam sayur, buah, syrup jagung, sari pohon, serta bersamaan dengan fruktosa dalam madu. Tubuh hanya dapat menggunakan glukosa dalam bentuk D. Glukosa merupakan hasil akhir pencernaan pati, sukrosa, maltosa, dan laktosa pada hewan dan manusia. Glukosa merupakan bentuk karbohidrat yang beredar di dalam tubuh dan di dalam sel merupakan sumber energi (Almatsier 2001).
Fruktosa dinamakan juga levulosa atau gula buah adalah gula yang paling manis. Fruktosa mempunyai rumus kimia yang sama dengan glukosa yaitu C6H12O6 namun strukturnya berbeda. Susunan atom dalam fruktosa merangsana jonjot kecapan pada lidah sehingga menimbulkan rasa manis. Gula tersebut terutama terdapat dalam madu bersama glukosa, dalam buah, nektar bunga, dan juga di dalam sayur. Fruktosa juga dapat diolah dari pati dan digunakan secara komersial sebagai pemanis (Almatsier 2001).
Disakarida memiliki empat jenis yaitu sukrosa, sakarosa, maltosa,laktosa, dan trehalosa. Disakaria terdiri atas dua unit monosakarida yang terikat satu sama lain melalui reaksi kondensasi (Almatsier 2001).
Sukrosa atau sakarosa dinamakan juga sebagai gula tebu atau gula bit. Secara komersial gula pasir yang 99% terdiri atas sukrosa dibuat dari kedua macam bahan makanan tersebut melalui proses penyulingan dan kristalisasi. Sukrosa juga terdapat dalam buah, sayuran, dan madu. Apabila dihidrolisis, sukrosa pecah menjadi satu unit glukosa dan satu unit fruktosa (Almatsier 2001).
Laktosa (gula susu) hanya terdapat dalam susu dan terdiri atas satu unit glukosa dan satu unit galaktosa. Laktosa adalah gula yang rasanya paling tidak manis (seperenam manis glukosa) dan lebih sukar larut daripada sakarida lain (Almatsier 2001).
Maltosa (gula malt) tidak terdapat bebas di alam. Maltosa terbentuk pada setiap perpecahan pati, seperti yang terjadi pada tumbuh-tumbuhan bila benih atau biji berkecambah dan di dalam usus manusia pada pencernaan pati. Apabila dihidrolisis, maltosa pecah menjadi dua unit glukosa (Almatsier 2001).
Karbohidrat kompleks terbagi atas polisakarida yang terdiri atas lebih dari dua ikatan monosakarida dan serat yang dinamaka juga polisakarida nonpati. Polisakarida mengandung sampai tiga ribu unit gula sederhana yang tersusun dalam bentuk rantai panjang lurus atau bercabang. Gula sederhana tersebut adalah glukosa. Jenis polisakarida yang penting ialah pati, dekstrin, gliogen,dan polisakarida nonpati (Almatsier 2001).
Pati merupakan simpanan karbohidrat dalam tumbuh-tumbuhan dan merupakan karbohidrat utama yang dimakan manusia di seluruh dunia. Pati terutama terdapat dalam padi-padian, biji-bijian, dan umbi-umbian. Jumlah unit glukosa dan susunannya dalam satu jenis pati berbeda satu sama lain, bergantung jenis tanaman asalnya (Almatsier 2001).
Uji Molisch adalah uji umum untuk karbohidrat. Pereaksi molisch yang terdiri dari α-naftol dalam alkohol akan bereaksi dengan furfural tersebut membentuk senyawa kompleks berwarna ungu yang disebabkan oleh daya dehidrasi asam sulfat pekat terhadap karbohidrat.. Uji tersebut bukan uji spesifik untuk karbohidrat, walalupun hasil reaksi yang negatif menunjukkan bahwa larutan yang diperiksa tidak mengandung karbohidrat. Warna ungu kemerah-merahan menyatakan reaksi positif, sedangkan warna hijau adalah negatif. Glukosa, fruktosa, sukrosa, laktosa, maltosa, dan pati termasuk senyawa karbohidrat yang seluruhnya menghasilkan cincin ungu kecoklatan pada reaksinya dengan pereaksi Molisch.
Cincin ungu terbentuk akibat glukosa yang terhidrasi menjadi fulfular dan bereaksi dengan molisch dan H2SO4. Furfural padat paling cepat membentuk cincin ungu karena tidak perlu melalui hidrolisis. Konsentrasi asam sulfat pekat bertindak sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula untuk membentuk furfural dan turunannya yang kemudian diperkirakan dapat membentuk produk yang bewarna pada produk amilum dan glukosa yang diteliti terbukti adalah karbohidrat yang ditandai dengan adanya cincin bewarna ungu. Jadi baik monosakarida, disakarida, maupun polisakarida memberikan hasil positif pada uji Molisch, sehingga membuktikan bahwa seluruhnya ialah karbohidrat (Hamdan 2007).
Pada uji Molisch semua zat uji termasuk karbohidrat. Hal tersebut dapat dilihat pada terbentuknya cincin warna ungu. Reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut:
Persamaan reaksi pembentukan cincin warna ungu



Uji Benedict didasari oleh larutan tembaga alkalis yang akan direduksi oleh gula yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas dengan membentuk kuprooksida yang berwarna. Gula pereduksi beraksi dengan pereaksi menghasilkan endapan merah bata (Cu2O). Pada gula pereduksi terdapat gugus aldehida dan OH laktol. Gugus OH laktol adalah OH yang terikat pada atom C pertama yang menentukan karbohidrat sebagai gula pereduksi atau bukan (Handini 2009).
Hasil uji positif ditunjukkan oleh fruktosa, glukosa, maltosa, dan laktosa ditandai dengan adanya endapan merah bata pada uji benedict, sedangkan untuk karbohidrat jenis sukrosa dan pati menunjukkan hasil negatif ditandai dengan warna biru. Sekalipun aldosa atau ketosa berada dalam bentuk sikliknya, namun bentuk ini berada dalam kesetimbangannya dengan sejumlah kecil aldehida atau keton rantai terbuka, sehingga gugus aldehida atau keton ini dapat mereduksi berbagai macam reduktor, oleh karena itu, karbohidrat yang menunjukkan hasil reaksi positif dinamakan gula pereduksi.
Pada sukrosa, walaupun tersusun oleh glukosa dan fruktosa, namun atom karbon anomerik keduanya saling terikat, sehingga pada setiap unit monosakarida tidak lagi terdapat gugus aldehida atau keton yang dapat bermutarotasi menjadi rantai terbuka, hal ini menyebabkan sukrosa tak dapat mereduksi pereaksi benedict. Pada pati, sekalipun terdapat glukosa rantai terbuka pada ujung rantai polimer, namun konsentrasinya sangatlah kecil, sehingga warna hasil reaksi tidak tampak oleh penglihatan (Hamdan 2007).
Reaksi yang berlangsung pada uji Benedict sebagai berikut :



Berdasarkan pada tabel 3 dapat diketahui bahwa Uji Barfoed  menghasilkan hasil yang positif pada glukosa, fruktosa, sukrosa dan negatif pada laktosa, maltosa, dan pati. Dalam hal ini terdapat ketidak sesuaian dengan literatur umumnya sukrosa menghasilkan hasil yang negatif pada uji Barfoed karena sukrosa termasuk ke dalam golongan disakarida. Perbedaan ini disebabkan adanya kontaminan pada pipet yang digunakan, tabung reaksi dan sampel.  Hasil uji polisakarida atau disakarida akan terhidrolisis parsial menjadi sebagian kecil monomernya. Hal tersebut yang menjadi dasar untuk membedakan antara polisakarida, disakarida, dan monosakarida. Monomer gula bereaksi dengan fosfomolibdat membentuk senyawa berwarna biru. Dibanding dengan monosakarida, polisakarida yang terhidrolisis oleh asam mempunyai kadar monosakarida yang lebih kecil, sehingga intensitas warna biru yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan dengan larutan monosakarida.
Berbeda dengan pereaksi-pereaksi lain yang digunakan untuk menunjukkan karbohidrat pereduksi, pereaksi barfoed bersifat asam. Pereaksi tersebut dibuat dengan melarutkan 13,3 gram kristal kupri sulfatnetral dalam 200 ml air. Setelah disaring, filtrat ditambah dengan 1,8 ml asam asetat glacial. Pemanasan karbohidrat denga pereaksi barfoed, terjadi reaksi oksidasi karbohidrat pereduksi menjadi asam karboksilat dan reduksi pereaksi barfoed menjadi ion kupri (Cu2+) menjadi endapan kupro oksida. Suasana asam pada pereaksi barfoed dapat mengakibatkan waktu terjadinya pengendapan Cu2O pada reksi dengan monosakarida dan disakarida berbeda. Pada konsentrasi dan kondisi yang sama, disakarida memberikan endapan merah bata lebih lambat daripada monosakarida. Berdasarkan hal tersebut, uji barfoed dapat digunakan untuk membedakan disakarida dan monosakarida (Sumardjo 2006).
Reaksi yang terjadi pada uji Barfoed sebagai berikut:

      Uji Fermentasi memerlukan suasana aerob sehingga karbohidrat oleh ragi akan dicerna dan diubah bentuknya menjadi etil alkohol (C2H5OH) serta gas karbondioksida. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa gas Karbondioksida yang dihasilkan ragi lebih cepat terjadi pada monosakarida, khususnya glukosa. Hal tersebut menunjukkan bahwa monosakarida lebih reaktif dari disakarida ataupun polisakarida. Selain itu, Pati dan disakarida lainnya merupakan molekul yang relatif lebih besar dibandingkan dengan monosakarida sehingga kemampuan ragi untuk mencerna dan mengubah pati tersebut menjadi etil alkohol dan karbon dioksida lebih banyak memerlukan energi dan waktu yang lebih lama, bahkan tidak menghasilkan gas karbondioksida pada pati. Sehingga Glukosa dan fruktosa yang merupakan monosakarida dapat menghasilkan gas karbondioksida lebih banyak dibadingkan dengan disakarida atau polisakarida (Hamdan 2007).
            Semakin tinngi hisapan pada ibu jari, semakin tinggi pula gas karbondioksida yang dihasilkan. Uji positif hanya dihasilkan oleh monosakarida dan disakarida, sedangkan polisakarida menghasilka uji negative.
Uji Selliwanoff  digunakan untuk menunjukkan adanya ketoheksosa, misalnya fruktosa. Pereaksi Selliwanoff adalah resorsinol dalam asam klorida encer. Pendidihan fruktosa dengan pereaksi Selliwanoff menghasilkan larutan berwarna merah. Dua tahap reaksi terjadi dalam pendidihan tersebut, yaitu dehidrasi fruktosa oleh HCl yang ada dalam pereaksi Selliwanoff membentuk hidroksimetilfurfural dan kondensasi hidroksimetilfurfural yang terbentuk dengan resorsinol membentuk senyawa berwarna merah. Sukrosa juga memberikan hasil yang positif pada uji Selliwanoff sebab sukrosa mengalami hidrolisis menjadi glukosa dan fruktosa. Fruktosa yang terbentuk tersebut menyebabkan larutan berwarna merah ( Sumardjo 2006).
Sedangkan glukosa, laktosa, maltosa, dan pati tidak menghasilkan uji positif pada uji selliwanoff, disebabkan oleh saat seluruhnya mengalami hidrolisis tidak ada satupun yang mengandung fruktosa. Uji Selliwanoff  hanya positif pada karbohidarat yang mengandung monosakarida dengan jumlah 6 atom C yang disebut dengan heksosa dan mengandung gugus keton. Glukosa merupakan aldosa atau ketosa, laktosa terurai menjadi glukosa dan galaktosa, maltosa terurai menjadi dua molekul glukosa, serta pati merupakan polisakarida sehingga pada uji Selliwanoff dihasilkan uji yang negatif. Reaksi yang terjadi pada uji selliwanoff sebagai berikut:

           
Iodium encer digunakan sebagai pereaksi dalam uji Iod. Iodium berfungsi sebagai pendeteksi adanya kandungan amilum atau amilosa pada sampel yang ditunjukkan dengan timbulnya warna biru atau ungu pekat. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tepung pati menghasilkan warna ungu pekat dan tepung agar-agar menghasilakan warna ungu kemerahan, lain halnya dengan tepung gum arab dan tepung arabinosa menghasilkan warna kuning. Pati dan agar-agar mengandung amilosa sehingga menunjukkan hasil positif, sedangkan gum arab dan arabinosa tidak mengandung komponen tersebut sehingga menunjukkan hasil yang negatif.
Reaksi iodium merupakan hasil pembentukan rantai poliiodida dari reaksi pati dan yodium. Pada amilosa atau bagian rantai lurus dari pati, bentuk heliks terdapat iodium yang menyusunnya menyebabkan warna menjadi ungu kemerahan atau ungu pekat. Amilopektin atau bagian bercabang pada pati, bentuk heliks lebih pendek dan molekul yodium tidak dapat menyusunnya dan menyebabkan warna menjadi kuning atau oranye. Seperti pati yang dipecah atau dihidrolis menjadi unit karbohidrat yang lebih kecil, warna ungu tidak diproduksi. Oleh sebab itu, uji iod dapat menentukan penyelesaian hidrolisis ketika perubahan warna tidak terjadi (Sumardjo 2006).

Simpulan
            Berdasarkan hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa seluruh karbohidrat dapat diidentifikasi oleh  pereaksi molisch. Uji benedict positif terhadap glukosa, fruktosa, laktosa, dan maltosa. Uji barfoed positif terhadap glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Uji fermentasi positif terhadap glukosa, fruktosa, sukrosa, laktosa, dan maltosa. Uji Selliwanoff positif terhadap fruktosa dan sukrosa. Serta uji iod positif terhadap tepung pati dan tepung agar-agar.

Daftar Pustaka
Almatsier Sunita. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Feseenden dan Fessenden. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Jakarta: Binarupa Aksara.
Hamdan Ali. 2007. Petunjuk Praktikum Biokimia Laboratorium Dasar Universitas Trunojoyo. [terhubung berkala] http://labdasar.trunojoyo.ac.id/buku%20biokimia.pdf. [7 September 2011, 03:05]
Handini. 2009. Karbohidrat Pada Uji Kualitatif. [terhubung berkala] http://www.rismaka.net/2009/06/karbohidrat-pada-uji-kualitatif.html. [7 September 2011,02:40]
Irawan  Anwari. 2007. Karbohidrat. [terhubung berkala] http://www.pssplab.com/journal/03.pdf. [7 September 2011, 02:13]
Poedjiadi  Anna. 2006. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI-Press
Yatim Wildan. 2003. Kamus Biologi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Sumardjo Damin. 2006. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran. Jakarta : penerbit Buku Kedokteran EGC







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar