Rabu, 04 Januari 2012

Laporan Praktikum Biokimia : Vitamin

Laporan Praktikum                          Hari            : Selasa
Biokimia                                          Tanggal      : 6 Desember 2011
                                                         Waktu        : 11.00-12.40 WIB
                                                         PJP             : Popi Asri Kurniatin, M.Si
                                                         Asisten       : Resti Siti Muthmainah, S.Si
                                                                              Nurmala Putri Agustin, S.Si



VITAMIN

Kelompok 11
                        Arfiyah Tri Meirina                             J3L110030
                        Diane Arini                                        J3L110073
                        Nur Cahyaningtyas                            J3L110139







ANALISIS KIMIA
DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011

Pendahuluan
Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Berdasarkan sifat kelarutannya vitamin terbagi menjadi dua, Adapun vitamin dibedakan menjadi 2 kelas, yaitu: Vitamin yang larut dalam air: Tiamin (vitamin B1), Riboflavin (vitamin B2) (Mulyono 2005).
Asam nikotinat, asam pantotenat, piridoksin (vitamin B6), biotin,  asam folat,  vitamin B12, asam askorbat (vitamin C). Vitamin yang larut dalam lemak: Vitamin A, Vitamin D, Vitamin E, Vitamin K. Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular.  Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam. Buah-buahan, seperti jeruk, merupakan sumber utama vitamin ini . Vitamin C diperlukan untuk menjaga struktur kolagen, yaitu sejenis protein yang menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan patah tulang, memar, pendarahan kecil, dan luka ringan (Lehninger 1996).
Vitamin C diperlukan untuk sintesis kolagen, komponen struktural penting dari pembuluh darah, tendon, ligamen, dan tulang. Vitamin C juga berperan penting dalam sintesis neurotransmitter , norepinefrin. Neurotransmiter sangat penting untuk fungsi otak dan diketahui mempengaruhi suasana hati. Selain itu, vitamin C diperlukan untuk sintesis karnitin , molekul kecil yang sangat penting untuk pengangkutan lemak menjadi organel sel yang disebut mitokondria , di mana lemak diubah menjadi energi. Penelitian juga menunjukkan bahwa vitamin C adalah terlibat dalam metabolisme kolesterol untuk asam empedu , yang mungkin memiliki implikasi terhadap kadar kolesterol darah dan kejadian batu empedu (Harjadi 1986).
Vitamin C juga sangat efektif terhadap antioksidan protein. Bahkan jumlah kecil vitamin C dapat melindungi molekul yang sangat diperlukan dalam tubuh, seperti, lipid (lemak), karbohidrat, dan asam nukleat (DNA dan RNA), dari kerusakan oleh radikal bebas dan reaktif oksigen spesies yang dapat dihasilkan selama metabolisme normal maupun melalui hubungan ke racun dan polutan (misalnya, asap rokokVitamin C juga mungkin dapat beregenerasi antioksidan lain seperti vitamin E. Satu studi terbaru perokok ditemukan bahwa vitamin C vitamin E regenerasi dari bentuk teroksidasinya (Fessenden 1982).
Vitamin B adalah 8 vitamin yang larut dalam air dan memainkan peran penting dalam metabolisme sel. Dalam sejarahnya, vitamin pernah diduga hanya mempunyai satu tipe, yaitu vitamin B (seperti orang mengenal vitamin C atau vitamin D). Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa komposisi kimia di dalamnya membedakan vitamin ini satu sama lain dan terlihat dalam contohnya dalam beberapa makanan. Suplemen yang mengandung ke- 8 tipe ini disebut sebagai vitamin B kompleks. Masing-masing tipe vitamin Bsuplemen mempunyai nama masing-masing (contoh: B1, B2, B3) (Girindra 1986).

Tujuan
Tujuan dari praktikum ini, yaitu untuk mengetahui kadar vitamin C di dalam tablet dan UC 1000, serta mengetahui kadar vitamin B1 dalam tablet.

Alat dan bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah labu erlemeyer 250 mL, pipet tetes, pipet Mohr 10 mL, buret 50 mL, statif, mortar, botol semprot dan corong.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah H2SO4 2N, larutan iod 0.01N, tiosulfat 0.01 N, 20 mL akuades, tablet vitamin B1, tablet vitamin C, dan UC 1000.

Prosedur Kerja
Prosedur kerja penentuan kadar vitamin C dalam tablet ialah sebanyak 2 tablet vitamin C dilarutkan ke dalam 20 ml akuades dalam erlenmeyer. Sebanyak 3 ml H2SO4 2N dan 25 ml larutan iod ditambahkan ke dalam erlenmeyer tersebut. Campuran dititrasi dengan larutan tiosulfat 0,1 N. Titrasi blanko juga dilakukan tanpa contoh dan dikerjakan seperti contoh. Jumlah ml tiosulfat yang digunakan dan kadar vitamin C dalam tablet dihitung. Sebanyak 1ml tiosulfat setara dengan 8,08 mg vitamin C.
Prosedur kerja penentuan kadar vitamin C dalam UC 1000 ialah sebanyak 10 ml minuman UC 1000 dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Sebanyak 3 ml H2SO4 2N dan 25 ml larutan iod ditambahkan ke dalam erlenmeyer tersebut. Campuran dititrasi dengan larutan tiosulfat 0,1 N dan sebagai indikator digunakan larutan pati. Titrasi blanko juga dilakukan tanpa contoh dan dikerjakan seperti contoh. Jumlah ml tiosulfat yang digunakan dan kadar vitamin C dalam tablet dihitung. 1 ml tiosulfat setara denagn 8,08 mg vitamin C.
Prosedur kerja penentuan kadar vitamin B1 dalam tablet ialah sebanyak 2 tablet vitamin B1 dilarutkan ke dalam 10 ml akuades dalam erlenmeyer. Sebanyak 5 ml HCl 0,01N dan 25 ml larutan iod 0,05N ditambahkan ke dalam erlenmeyer tersebut, kemudian ditambahkan 5 tetes NaOH 2N sampai larutan netral dan ditambahkan lagi 2 tetes NaOH 2N (penambahan dilakukan di dalam air es) lalu didiamkan selama 30 menit. Erlenmeyer disumbat atau ditutup dengan plastik. Setelah 30 menit, larutan ditambahkan 2 tetes H2SO4 2N sampai pH 5,5. Campuran dititrasi dengan larutan tiosulfat 0,05 N. Titrasi blanko juga dilakukan tanpa contoh dan dikerjakan seperti contoh. Jumlah ml tiosulfat yang digunakan dan kadar vitamin C dalam tablet dihitung. Sebanyak 1ml tiosulfat setara dengan 2,81 mg thiamin klorida.








Data Hasil Pengamatan
Tabel 1 Penentuan kadar vitamin C
Ulangan
V Terpakai (ml)
V Koreksi (ml)
Kadar Vitamin C  (mg/tablet)
blanko
Tablet 1
6,50
4,60
0,00
1,90
0,0000
15,3520
Tablet 2
4,50
2,00
16,1600
Sari buah 1
2,00
4,50
36,3600
Sari buah 2
2,00
4,50
36,3600


Rata-rata tablet
15,7560 mg/tablet


Rata-rata sari buah
36,3600 mg/ml
Reaksi                 : I2 + Na2S2O3             2NaI + Na2S4O6
C6H8O6 + I2          C6H6O6 + 2HI
Perubahan warna                        : coklat menjadi kuning ditambahkan amilum dari   biru menjadi tidak berwarna
contoh perhitungan (tablet 1):
Vkoreksi                  = Vblanko – V sampel
                             = 6,50 ml4,60 ml
     = 1,90 ml
Kadar vitamin C = v koreksi x 8,08 mg Vit C
                             = 1,90 ml x 8,08 mg Vit C
                             = 15,3520 mg/tablet


Tabel 2 Penentuan kadar vitamin B1
Ulangan
V Terpakai (ml)
V Koreksi (ml)
Kadar Vitamin C (mg/tablet)
Blanko
7,40
0.00
0,00
1
18,10
-10,70
-30,067
2
13,60
-6,20
-17,422


Rata-rata
-23,7445
Perubahan warna      : coklat menjadi coklat muda ( tambah amilum) menjadi biru  kemudian menjadi hijau muda
Contoh perhitungan:
Vkoreksi                           = Vblanko – V sampel
                                     = 7,40 ml – 18,10 ml
                                     = -10,70 ml
Kadar vitamin C         = Vkoreksi x 2,81 mg Vit B1
                                     = -10,70 x 2,81 mg Vit B
                                     = -30,067 mg/5ml








Pembahasan
Vitamin C termasuk vitamin yang larut dalam air. Vitamin C atau asam askorbat merupakan asam gula yang banyak terdapat pada buah-buahan. Vitamin C dikenal sebagai zat anti askorbat dan dapat mempertinggi daya tahan tubuh terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus. Struktur dari asam askorbat (Vitamin C) dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1 Struktur Asam Askorbat
(Hart 2003)
Sumber vitamin C  terbaik adalah berasal dari sayuran dan buah-buahan seperti stroberi, jeruk, melon, brokoli, pepaya, belimbing, kedondong, kubis, asparagus dan aneka sayuran hijau. Penetapan kadar vitamin C dalam suatu bahan dapat dilakukan secara titrimetri. Reaksi yang dijalankan dengan titrasi yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi sedikit sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi ekivalen. Pada saat titran ditambahkan tampak telah ekivalen, maka penambahan titran harus dihentikan, saat ini dinamakan titik akhir titrasi. Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran sedangkan larutan yang ditambah titran disebut titrat (Harjadi 1986).
Penentuan kadar vitamin C pada tablet dan minuman UC 1000 dapat dilakukan dengan titrasi iodometri tidak  langsung. Penambahan larutan H2SO4 dilakukan terlebih dahulu sebelum larutan Iod pada pembuatan titrat dilakukan untuk membuat larutan Iod tidak mengalami oksidasi. Titrasi iodometri tidak langsung melibatkan Na2S2O3 sebagai titran. Vitamin C atau asam askorbat (C6H8O6) merupakan oksidator yang dapat bereaksi dengan I- (iodida) untuk menghasilkan I2, I2 yang terbentuk secara kuantitatif dapat dititrasi dengan larutan tiosulfat. Dari pengertian diatas maka titrasi iodometri adalah dapat dikategorikan sebagai titrasi kembali (Girindra 1986).
Iodida adalah reduktor lemah dan dengan mudah akan teroksidasi jika direaksikan dengan oksidator kuat. Iodida tidak dipakai sebagai titran. Hal ini disebabkan faktor kecepatan reaksi dan kurangnya jenis indikator yang dapat dipakai untuk iodida. Oleh sebab itu titrasi kembali merupakan proses titrasi yang sangat baik untuk titrasi yang melibatkan iodida. Senyawaan iodida umumnya KI ditambahkan secara berlebih pada larutan oksidator sehingga terbentuk I2. I2 yang terbentuk adalah ekuivalen dengan jumlah oksidator yang akan ditentukan. Jumlah I2 ditentukan dengan mentitrasi I2 dengan larutan standar tiosulfat (Baliwati 2002).
Penentuan kadar vitamin C atau asam askorbat pada percobaan kali ini dilakukan dengan asam askorbat dititrasi dengan Na2S2O3. Hal ini disebabkan asam askorbat yang bersifat oksidator dapat mengoksidasi tiosulfat menjadi senyawaan yang bilangan oksidasinya lebih tinggi dari tetrationat dan umumnya reaksi ini tidak stoikiometri.  Indikator yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu pati atau amilum. Amium dengan I2 membentuk suatu kompleks berwarna biru tua yang masih sangat jelas sekalipun I2 sedikit sekali. Pada titik akhir, iod yang terikat itu pun hilang bereaksi dengan titran sehingga warna biru lenyap mendadak dan perubahan warnanya tampak sangat jelas. Penambahan amilum ini harus menunggu sampai mendekati titik akhir titrasi (bila iod sudah tinggal sedikit yang tampakdari warnanya yang kuning muda). Maksudnya ialah agar amilum tidak membungkus iod dan menyebabkan sulit lepas kembali. Hal itu akan berakibat warna biru sulit sekali lenyap sehingga titik akhir tidak kelihatan tajam lagi. Bila iod masih banyak sekali bahkan dapat menguraikan amilum dan hasil penguraian ini mengganggu perubahan warna pada titik akhir (Harjadi 1986). Perubahan warna yang terjadi adalah dari coklat menjadi kuning, saat kuning ditambahkan amilum sehingga terbentuk warna biru dan dititrasi kembali sampai tidak berwarna (Harjadi 1986).
Penambahan amilum (pati) menjelang akhir titrasi juga disebabkan kompleks amilum-I2 terdisosiasi sangat lambat maka banyak I2 yang akan terabsorbsi oleh amilum jika amilum ditambahkan pada awal titrasi dan biasanya iodometri dilakukan pada media asam kuat sehingga akan menghindari terjadinya hidrolisis amilum. Reaksi yang terjadi pada percobaan kali ini sebagai berikut:
I2 + 2Na2S2O3        2NaI + Na2S4O6
C6H8O6 + I2               C6H6O6 + 2HI                 (Hart 2003)
Titrasi harus dilakukan dengan cepat untuk meminimalisasi terjadinya oksidasi iodida oleh udara bebas. Pengocokan pada saat melakukan titrasi iodometri dilakukan untuk menghindari penumpukan tiosulfat pada area tertentu, penumpukkan konsentrasi tiosulfat dapat menyebabkan terjadinya dekomposisi tiosulfat untuk menghasilkan belerang. Terbentuknya reaksi ini dapat diamati dengan adanya belerang dan larutan menjadi bersifat koloid (tampak keruh oleh kehadiran S) (Harjadi 1986).
S2O32-  +  2H+  -> H2SO3 + S
Jumlah iodida yang ditambahkan dipastikan berlebih sehingga semua analat tereduksi dengan demikian titrasi akan menjadi akurat. Kelebihan iodida tidak akan mengganggu jalannya titrasi redoks akan tetapi jika titrasi tidak dilakukan dengan segera maka I- dapat teroksidasi oleh udara menjadi I2 (Harjadi 1986)
Kadar vitamin C pada tablet vitamin C dan minuman UC 1000 merupakan selisih antara volume titran blanko dengan volume titran sampel yang kemudian dikalikan 8,08 mg. Nilai 8,08 mg menunjukkan bahwa 1 ml tiosulfat setara dengan 8,08 mg. Berdasarkan percobaan, kadar vitamin C rata-rata yang diperoleh pada tablet vitamin C adalah 15,7560 mg/tablet dan minuman UC-1000 dengan adalah 36,3600 mg/tablet. Berdasarkan literatur, kandungan vitamin C pada tablet sebanyak 50 mg/tablet sedangkan pada UC-1000 sebanyak 1000 mg/140 ml, dengan kata lain kandungan vitamin C pada UC-1000 sebanyak 35,71 mg/5 ml. Adanya perbedaan tersebut menunjukkan adanya kesalahan dalam percbaan. Kesalahan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor di antaranya larutan natrium sulfat  yang  tidak distandardisasi, penambahan titran yang berlebih, I2 yang telah teroksidasi dan pengamatan setiap orang berbeda saat menentukan titik akhir titrasi.
Vitamin B1 dalam bentuk murninya adalah thiamin hidroklorida. Dalam makanan thiamin ditemukan dalam bentuk bebas atau dalam bentuk kompleks dengan protein atau kompleks protein-fosfat. Thiamin tidak dapat disimpan banyak oleh tubuh tetapi dalam jumlah terbatas disimpan di hati, ginjal, jantung, otak dan otot. Bila terlalu banyak kelebihannya dibuang melalui air kemih. Thiamin memiliki rumus molekul C12H17N4OS, vitamin ini juga memiliki berat molekul 265, 36 gram/ molekulnya. Thiamin aktif dalam bentuk kokarboksilase sebagai thiaminpirofosfatase (TPP). Prinsipnya thiamin sebagai koenzim dalam reaksi yang menghasilkan energi dari karbohidrat dan memindahkan energi membentuk ATP (Adenin Trifosfat) (Winarno 1997).
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTPOVSeKwPluQE8fhGldb7FEX_pAUQ2y9xYATZxDHMfDBKrUdwfJg
Gambar 3 struktur vitamin B1
Vitamin B1 di dalam tubuh memiliki fungsi yang sangat penting yakni esensial untuk berbagai fungsi tubuh, produksi energi dan membantu memelihara kesehatan syaraf dan otot, membantu perawatan penyakit anemia, membantu perawatan penyakit herpes, serta membantu tubuh membuat dan memakai protein. Beri-beri yaitu penyakit kekurangan vitamin B1 dalam masyarakat yang banyak mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok khususnya beras yang digiling sempurna. Bila beras digiling sempurna maka lapisan aleuron yang kaya akan thiamin terbuang sebagai dedak. Gejala kekurangan thiamin mula-mula lelah, hilang nafsu makan, berat badan menurun dan gangguan pencernaan. Bila telah terjadi beri-beri terjadi gangguan kerja saraf (polyneuritis). Pada orang dewasa terjadi gangguan jantung menyebabkan oedem (penumpukan cairan dalam jaringan) padakaki bawah atau telapak kaki serta persendian kaki. Bila berlanjut oedem dapat terjadi di rongga dada dan ini disebut beri-beri basah. Penderita diberi vitamin B kompleks dan makanan kaya protein dan kalori (Hawab 2005)
Pemakaian thiamin yang melebihi normal mempengaruhi sistemsaraf. Hal ini karena reaksi hipersensitif yang dapat berpengaruh pada kelelahan, sakit kepala, sifat lekas marah dan susah tidur. Sistem darah dapat terpengaruh, karena denyut nadi menjadi cepat. Jumlah konsumsi harian yang direkomendasikan oleh RDA untuk vitamin 1,4 mg. Peminum dan perokok berat, wanita hamil dan menyusui serta yang menggunakan pil kontrasepsi harus menaikkan dosis sebanyak 100-300 mg per hari. Dosis juga ditingkatkan jika seseorang sedangmenderita stres. Vitamin ini lebih efektif penggunaan bersama denganvitamin B- kompleks yang lain. Dosis maksimum yang masihdiperbolehkan dalam batas normal per hari ialah 400 mg. Vitamin B jugadikonsumsi pada saat diet. Makanan yang seimbang akan memberikancukup thiamin. Orang yang berpuasa atau melakukan diet harus memastikan bahwa mereka mendapat sejumlah thiamin yang sama sepertidalam 2000 kkalori makanan.Untuk menghindari terjadinya hal tersebut, diperlukan asupanvitamin B1 yang cukup ke dalam tubuh. Sumber makanan yang mengandung vitamin B1 yakni beras pecah kulit, daging, unggas, telur,hati, ikan, lalap sayuran (Lide 2004).
Berdasarkan data percobaan dapat diketahui bahwa rata-rata kadar vitamin b1 dalam tablet sebesar -23,7445 mg/tablet.nilai kadar vitamin B1 yang diperoleh negative karena nilai blanko lebih kecil dari titrasi. Hal ini disebabkan karena adanya oksidasi dari I2, kontaminan dari bahan, penyimpanan bahan yang terlalu lama.
Simpulan
Berdasarkan percobaan, rata-rata  kadar vitamin C yang diperoleh pada tablet vitamin sebesar 15,7560 mg/tablet dan kadar vitamin C dalam UC 1000 sebesar 36,3600 mg/ml serta rata-rata kadar vitamin B1 dalam tablet sebesar
-23,7445 mg/tablet.

Daftar pustaka
Fessenden. 1982. Kimia Organik.  Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Girindra A. 1986. Biokimia I. Jakarta: Gramedia
Harjadi. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Erlangga
Hart H. 2003. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga
Baliwati, Y.F. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC
Hawab,HM. 2005. Pengantar Biokimia Edisi Revisi. Malang : Bayumedia
Lehninger  A.1996. Dasar-dasar Biokimia. Maggy Thenawidjaya, penerjemah.
            Jakarta : Erlangga.Terjemahan dari : Basic of Biochemistry
Lide R. 2004. CRC Handbook of Chemistry and Physics. London:CRC Press
Mulyono HAM. 2005. Kamus Kimia. Jakarta : Bumi Aksara
Winarno F.G.1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar